Jual Milagros disini
Loading...

Bapak Rumah Tangga

Abbie dan Tazkia

Kesibukan keluarga modern dewasa ini sering menuntut tersedianya waktu untuk meniti karir hingga setinggi tingginya demi mencapai tujuan yang diinginkan. Keluarga modern yang dalam hal ini secara jelas disebutkan adalah bapak dan ibu yang sama sama menjadi lokomotif alias sama sama mencari nafkah. Kedua orang tua yang sama sama mencari nafkah dan bekerja inilah yang menjadi tema tulisan saya hari ini kaitannya dengan judul hari ini "Bapak Rumah Tangga" lebih menitikberatkan kepada peranan para ayah yang selain beraktifitas kesehariannya juga bertindak sebagai pengasuh anak anak di rumah.

Ini memang sering terjadi dan memang banyak terjadi di keluarga keluarga Indonesia dewasa ini. Peran ibu atau bunda yang merawat dan membesarkan anak anaknya kini sudah bisa digantikan perannya secara temporary atau sementara oleh sang ayah atau bapak. Pertanyaannya di sini sederhana saja, kemanakah ibunya?. Seorang ayah yang mengantarkan anakknya ke sekolah dan mengambilkan raport di sekolah sering mendapati pertanyaan seperti ini, dimanakah ibunya?. Untuk menjawab pertanyaan inilah saya coba membahasnya secara sederhana saja dalam tulisan ini berpangkal pada pengalaman empiris sehari sehari saya yang sudah 3 (tiga0 tahun sebagai "bapak rumah tangga".

Peranan Menjaga Anak
Nah untuk sub bahasan ini sengaja saya tulis "peranan menjaga anak" nah kata menjaga tentu tidak sama dengan "membesarkan" atau "mendidik" anak yang mengandung dimensi yang dalam dan bermakna amat luas. Mendidik dan membesarkan anak bukanlah perkara mudah bagi mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak baik anak pertama, anak kedua maupun mereka yang memiliki lebih dari 2 (dua) orang anak. Pada tulisan ini sengaja saya mengambil contoh dalam keluarga saya sendiri yang alhamdulillah ya (Syahrini mode on-red) sudah dkaruniai 2 (dua) orang anak, sepasang putra dan putri.



Yang tertua putra bernama Abbie (lengkapnya Abbie Muhammad Furqan Haryono-red) yang kini sudah masuk PlayGroup berusia 3,5 tahun, dan adiknya yang perempuan Tazkia Putri (Nama lengkapnya Tazkia Montessori Putri Haryono-red) yang kini sudah memasuki usia ke 10 (Sepuluh) bulan. Peranan mendidik dan membesarkan anak anak adalah tanggung jawab kami berdua, sejatinya, dan pernaan Ibu atau bunda tetaplah menjadi "milik" anak anak yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Nah peranan "menjaga anak" inilah yang sudah saya mainkan selama 3 (tiga) tahun terakhir ini mengingat aktifitas dan kesibukan istri saya, Rudi Maryati, S.Pd, yang PNS Guru dan mengajar di SMA Negeri 1 Kubu Raya yang luar biasa. Waktu yang "tersisa" bagi anak anak hanyalah sekitar 3-4 hari saja dalam seminggu.

Sisa hari lainnya adalah milik Negara atau sebagai abdi negara, aparatur pemerintah mengajar di Sekolah yang terletak di kabupaten Kubu Raya. Walhasil saya mengambil alih menjaga anak saat sang istri tidak di rumah. Menjaga anak ini dikhususkna untuk anak saya yang tertua saja, Abbie "Siganteng' Muhammad Furqan Haryono yang sudah lumayan nakalnya ini. Sedangkan adik perempuannya Tazkia Putri "Lucu Sekali" ini sudah dikawal dan dirawat oleh pengasuhan kami yang sudah lama kami kenal dengan baik. Bahkan saat Abbie masih bayi hingga sekarang inilah, mereka juga sudah merawatnya. Dan Sekali lagi Abbie sudah menjadi "alumni" dan kini adiknya kembali menjadi "anak" mereka. Pola ini kami rasakan cukup membantu karena saya dan istri sama sama bekerja.

Bayangkan untuk hari hari mereka saja sudah cukup membuat kami berpikir keras bagaimana menyiasati sang waktu agar kami bisa selalu bersama dalam periode tertentu dalam satu tahun. Ini memerlkukan kecermatan dan kebiasaan karena kami sudah menjalaninya sejak masih memiliki anak pertama. Nah para pembaca setia blog saya mungkin belum mengetahui bagaimana kami berdua pontang panting menyiasati semua kesibukan, perawatan, hingga kepada perhatian untuk kami sendiri sebagai keluarga dan juga sebagai individu, nah mungkin kali ini akan saya coba gambarkan secara sederhana saja agar tidak memusingkan yang membacanya. Saya aja sudah mulai pusing bagaimana harus menyusun kalimatnya ini hehehehehhee.

Pola Pengasuhan Anak

Nah dalam subjudul ini saya akan coba membuat peta atau Map bagaimana sih pola pengasuhan anak anak yang saat ini telah dan sedang kami jalankan. Nah untuk menjelaskannya perlu saya jelaskan di sini bahwa saat ini kami sudah memiliki dua orang anak Abbie dan Tazkia yang sudah saya ceritakan di atas. Saat ini saya bekerja di salah satu perusahaan media cetak koran terbesar di Kalimantan Barat (katanya sih-red) dan istri saya PNS Guru mengajar di SMA NEgeri 1 Kubu dan mengajar antara hari Rabu sampai Sabtu setiap minggunya. Sedangkan aktifitas saya tetap berlangsung secara biasa mulai dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Untuk yang tertua, si Abbie kini bersekolah di PlayGroup TK Islam Al Azhar dan masuk selama 3 (tiga) kali dalam seminggu yakni hari Senin, Rabu dan Jumat. Sedangkan istri ke lokasi tugas mengajar berangkatnya hari Selasa, dan kembali pada hari Sabtu. Nanti di bagian lain dari blog ini akan saya ceritakan peranan saya sebagai "sopir" antar jemput.

Secara sederhana dapat saya buat "peta" kesibukan keluarga kami setiap harinya dalam seminggu dalam "rumus" yang sederhana sebagai berikut :
  1. Antar Abbie ke Sekolah setiap hari Senin, Rabu dan Jumat.
  2. Antar Bunda ke Kubu setiap hari Selasa, dan Sabtu jemput pulangnya.
  3. Setiap hari saya ke Kantor dari Senin sampai Sabtu
  4. Motor cuma satu diandalkan untuk antar jemput anak anak dan bundanya.
  5. Hari Minggu hari bersama semua keluarga kumpul di rumah
Sebagai "Sopir" Antar Jemput juga tidak kalah ribetnya. Dengan mengandalkan satu motor saja untuk saat ini menjadi andalan untuk semua aktifitas yang saya sebutkan antara 1 sampai dengan 3 itu setiap harinya dalam seminggu. Ini belum ditambah lagi dengan kesibukan jika ada undangan di hari ahadnya, atau juga ada kegiatan workshop sang istri di Kota Pontianak yang tentunyas memerlukan sarana transportasi antar jemput. Hal ini menjadi kebiasaan, dan akan semakin "heboh" dengan aktifitas saya sendiri yang setiap hari berjalan ke kantor eh maksudnya naik motor ke kantor setiap hari Senin sampai dengan Sabtu setiap minggunya. Rute Supadio dan Gajah Mada ditempuh dalam waktu sekitar 25 menit dengan kecepatan kendaraan yang biasa saya pakai adalah 40 Km perjam. Cukup lelet kata orang, tidak ada masalah dengan itu bagi saya soal lelet atau tidak , tidak perlu saya tanggapi kata orang.



Memandikan Abbie setiap hari saat bersama saya di rumah, mulai dari hari Senin sampai dengan hari kamis. Bagaimana sibuknya memandikan Abbie setiap pagi yang kadang rewel tidak mau mandi. Ya Mandi donk, kalwa nda mandi kan bau hehehehe. Udah gitu saya harus memasak air hangat dulu untuk keperluan dia mandi. Acara mandi dimulai pada jam sekitar jam 06.00 WIB pagi setiap harinya, dan air hangat harus tersedianya baginya untuk mandi. Abbie sangat tidak nyaman dengan air dingin, dan memang wajar demi kesehatannya juga kan. Nah untuk memandikan ini juga ada seninya.

Tidak sekedar membasuh air di badannya tapi juga menggosokkan kaki dan tangannya dari kotoran dan daki kala dia main seharian. Dan juga mendidiknya menggosok gidi dengan pasta gigi Komodo eh kodomo kesukaannya. Sudah gitu selesai kali mandi, saya juga memasangkan kemeja atau baju dan celananya. Menyisirkannya, membedaknya, dan kalwa sempat membuatnya sarapan. Sarapan bisa sarapan berat nasi, dengan lauk naget atau telor ceplok, atau cukup sereal kesukannya kokran hehehe, Wah wah sampai hafal saya. Maklum inilah peran "Bapak Rumah Tangga" yang saya jalankan hingga memasuki tahun ke 2 lamanya. Wah tidak terasa lama juga ya. Dan setelah rapih semuanya, saya mengantarkan Abbie ke sekolah, khusus untuk hari Senin, Rabu dan juga Jum'at setiap minggunya.

Di luar hari itu, Abbie setelah rapih dan sarapan akan diantar ke rumah "pengasuhnya" yakni keluarga Muhyar yang letaknya memang berdekatan dengan rumah kontrkan kami yang memang sama sama di Komplek Duta Bandara Supadio Jalan Ahmad Yani II Pontianak. Sedangkan untuk saya sendiri kalaw masak di rumah sederhana saja, karena memang saya dasarnya tidak bisa masak. Tidak bisa masak atau memang dasarnya saya malas belajar masak hehehe. Ya gitu deh. Jadi untuk saya sendiri sih untuk makan malam (Dinner) cukup memasak sendiri mie goreng, mie rebus, telor ceplok, kornetr atau goreng ikan, tempe aja deh yang praktis. Kadang juga saya saya mempraktekkan resep masakan yang diajarkan istri, ya tidak apa deh semua bahan dicampur. Yang penting dirasakan oleh lidah saya enak, dan saya makan sendiri kan hehehe. Yuk mareee

Abbie diantar ke PlayGroup TK ISlam Al Azhar setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Mulai masuk ke dalam kelas pada pukul 07.30 WIB dan Keluar kelas alias pulang pada jam sekitar 10.15 WIB. Setelah saya antar jemput dari dan ke Sekolah lalu ke rumah pengasuhnya, saya pun bergegas kembali ke kantor saya yang terletak di bilangan Gajah Mada. Kesibukan ini rutin setiap hari Senin, Rabu dan juga Jumat, dan kesibukan ini akan bertambah dengan mengantar bundanya ke Dermaga Steher Rasau setiap hari Selasa.

Jadi pas hari Selasa menjemput pulang Abbie dari Sekolah jam 10.15 WIB maka saya pun langsung tancap gas motor mengantar istri tercinta ke dermaha steher rasau di siang harinya atau sekitar jam 12.30 WIB. Lama waktu tempuh dari Duta Bandara Supadio ke Dermaga Steher Rasau biasanya sekitar 45 menit sampai dengan 1 jam tergantung pada cuaca dan kecepatan yang diambil, Makin cepat kecepatan tentunya Insya Allah akan cepat sampai, apalagi kondisi jalan dari Kuala Dua menuju Rasau lumayan berantakan dan kadang ada mulus juga. Wah macam macam deh.

Sudah diantar di Rasau, saya pun kembali meluncur ke Gajah Mada Pontianak yang jarak tempuh dari Rasau tentu dua kali lipatnya, dan bisa ditempuh sekitar 1 jam setengah. Agak lama memang karena fisik sudah letih, dan kecepatan motor saya pun semakin lambat. Sudah pasti sesampai di meja kerja saya pun tampak lecek, kumal dan tentu saja bau matahari. Dampak lainnya adalah kulit saya yang semakin kelam alias tidak putih lagi karena terkena sinar matahari baik secara langsung maupun tidak dalam proses antar jemput ini. Banyak kendala memang, ini belum termasuk kendala motor bocor di jalan, bang kempes, dan juga cuaca ekstrim misalnya hujan lebat yang juga bisa menghambar perjalanan kami semua itu. Nah jika semuanya sudah dilaksanakan baik dalam proses antar jemput, nah hari hari yang ditunggu pun akhirnya tiba yakni hari Ahad (Minggu-red). Pada hari ahad inilah adalah waktu yang amat mahal bagi kami sekeluarga. Karena pada hari inilah anak anak dijemput dari rumah pengasuhnya dan kembali kepada kami, dan kami sekeluarga di rumah. Kesibukan dan kepenatan kembali terulang jika sudah memasuki hari Senin dan segala sesuatunya berputar lagi dengan kesibukan rutin yang sudah saya gambarkan di atas.

Bagian Penutup
Itulah kerepotan kami sekarang yang punya 2 (anak) ini. Kami berdua sama sama bekerja, dan pola pengasuhan sepenuhnya tetap menjadi tanggung jawab kami berdua, orang tuanya, namun demikian peranan pengasuh anak anak kami (sebut saja baby sitter-red) yang juga merupakan sebuah keluarga Pak Muhyar tentu menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari anak anak dan sudah kami anggap sebagai "orang tua" bagi anak anak kami. Panggilan bapak dan ibu adalah untuk Pak Muhyar dan Bu Muhyar, sedangkan panggilan Ayah dan Bunda tetap terpulang kepada kami, saya sebagai AYAH dan istri saya sebagai BUNDAnya.

Jadi jangan heran kalaw anak tertua kami yang diplaygroup Al Azhar itu, Abbie, ditanya orang "siapa nama bapak dan ibunya?", tentu Abbie akan menjawabnya "Pak Muhyar dan Bu Muhyar". Tetapi tanyalah Abbie dengan pertanyaan "Siapa ayah dan bundanya?" jawabannya pasti kepada kami berdua, saya sebagai Ayah, dan istri sebagai bunda. Saya rasa inilah bagian akhir dari tulisan lebih tepatnya cerita kami bersama anak anak, dan peranan "Bapak Rumah Tangga" yang saya jalankan selama 1 sampai tiga tahun terakhir ini. Memiliki anak apalagi sampai 2 memerlukan kecermatan, ketelatenan, dan juga kesabaran tersendiri. Sibuk, lelah namun tetap mengasyikkan. Letih badan kami berdua, orang tuanya, hilang jika mendengar tangis sang bayi dan celoteh nakal dan senyum anak anak di rumah.


2 comments:

  1. sudah saya baca dengan seksama
    ternyata begitu sulit dan tidak ada perjuangan yang tanpa rintangan.

    SALAM BLOGGER DARI MADURA
    o y mau ngasih tau bahwa follow sukses No. 5

    ReplyDelete
  2. ckckck subhanallah yaa.. keren sekali kang asep..

    semoga ntar ketika saya diamanahi anak-anak sama Allah, saya dan suami sanggup jadi orangtua yang baik utk mereka :)

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog