Jual Milagros disini
Loading...

Andai Aku Bisa

Tag : Kehidupan - Asep Haryono | Andai Aku Bisa - Powered by Blogger

Dear blog. Hari ini adalah hari Rabu tepatnya tanggal 21 September 2011 atau kalau dalam penanggalan Hijriah sudah pada tangga; 22 Syawal 1432 Hijriah. Ya memang masih di bulan Syawal yang kata orang Pontianak sih masih dalam suasana Lebaran. Ya betul suasana Lebaran Iedul Fitri 1432 Hijriah memang "dirayakan" selama sebulan dan selama bulan syawal itulah suasana masih dalam lebaran dan saling bermaaf maafan.

Nah para pembaca setia blog saya di mana saja berada, berbicara soal waktu memang tidak akan pernah ada habis habisnya untuk didiskusikan bersama. Waktu memang bergerak amat cepat dan kadang tidak terasa bahwa kita sudah melewati suatu kisaran waktu. Persis pada hari ini saat saya memulai tulisan ini kudengar sebuah tembang cantik yang dinyanyikan oleh fans saya (Alm) Chrismansyah atau akrab disapa dengan sebutan "Chrisye" sebuah lagu yang berjudul "Andai Aku Bisa" yang diciptakan oleh Bebi Romeo dan Akhmad Dani menjadi tema dan judul tulisan saya ini. Saya dengarkan lagu nan indah disertai suara merdu sang vokalis yang kini sudah tiada. Betapa hati ini merinding mendengar syairnya yang berfokus pada waktu yang memang tidak bisa kembali seperti semula, dan waktu akan terus berjalan sesuai takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Ya Anda Aku Bisa kembali ke masa lalu. Semua orang pasti menginginkan hal itu bisa terjadi.

Waktu Terus Berjalan
Waktu yang sudah kita lewati sejak kita masih dalam buaian sang bunda hingga sekarang ini berjalan dengan begitu cepatnya seolah tidak terasa. Membayangkan masa kecil kita memang indh, masa remaja yang kini sudah menjadi kenangan kenangan bagi kita semua, dan masa masa sekarang adalah masa pendewasaan hingga akhirnya kita akan memasuki usia senja. Suatu usia yang konon kata orang merupakan usia yang sudah tidak produktif lagi. Sebagian orang tidak setuju dengan pendapat yang terakhir ini, bahkan banyak orang yang masih aktif dan terus beprestasi di usia senja. Bagaimana kita menyikapi semua ini terhadap waktu yang sudah ditakdirkan Illahi akan terus bergerak maju dan tidak akan pernah kembali lagi.

Saya coba mengenang kembali sejenak masa SD dahulu saat saya diantar ibunda di kelas 1 hingga akhirnya menamatkan sekolah dasar dasar negeri 01 di Jakarta utara. Memang saat itu saya , saudara dan orang tua bertempat tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Pademangan II Gang 15 nomor 396. Saya masih ingat alamat tempat tinggal kami itu. Dan kemudian seiring dengan waktu, saya pun memasuki SMP di Jakarta Utara juga lokasinya, tepatnya di SMP Negeri 34 Jakarta namun hanya mengenyam hingga kelas 1 saja. Karena menjelang kenaikan kelas II SMP saya harus pindah sekolah mengikuti kepindahan orang tua di Bekasi dan akhirnya meneruskan SMP di SMP Negeri 4 Bekasi hingga ke SMA Negeri 2 Bekasi yang terletak di jalan Tangkuban Perahu Perumnas II Bekasi itu. Saya senang karena pada akhirnya saya bisa berjumpa dengan teman teman SMA saya dahulu (angkatan 88-89-red) melalui jejaring pertemanan Facebook, twitter dan juga blog.

Apa hikmah yang bisa saya petik dari tulisan saya yang pendek hari ini, ya soal waktu. Waktu yang sudah kita lewati memang tidak akan mungkin kembali lagi. Kita, manusia, para hamba Allah SWT, hanya diberikan kesempatan hidup satu kali periode. Orang bilang "hidup cuma sekali jadi bersenang senanglah, kapan lagi" mungkin ada benarnya dan juga tidak. Mengapa saya bilang juga tidak benar, karena hidup tidak semata mata dihabiskan untuk bersenang senang, walaupun kita juga berhak atas kesenangan dunia. Ini memang sudah dituliskan dalam kitab suci Al Quran bahwa selain kita mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beramal bakti dan beramal soleh serta sodakoh, manusia juga berhak atas dunia sehingga terciptalah keseimbangan (balance-red) antara kehidupan Dunia dan AKhirat kelak.

Sejak saya kecil hingga di usia sekarang ini saya pun tidak tau kalaw akhirnya hingga seperti ini, dan begitu juga dengan para pembaca setia blog saya di mana saja berada. Tentu rekan rekan pembaca sekalian tidak tau kalau akhirnya akan seperti ini keadaannya. Kalaw kita lihat di sekeliling kita banyak orang yang berprestasi di bidangnya itu karena usaha yang dilakukannya sendiri dan juga atas "campur tangan" dari Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Ada orang memang yang ditakdirkan menjadi sukses dari awal karena memang dia sudah di "format" sedemikian rupa oleh sang Pencipta. Ada orang yang sudah tampak kesuksesannya dalam berkeluarga dari aura yang tampak padanya. Ini semua tidak seharusnya menjadi sesuatu yang kita perdebatkan karena masing masing dari kita sudah mendapatkan "format" dan "bentuk" yang seperti apa kelak di masa yang akan datang. Kita tidak akan pernah tau kehidupan macam apa yang akan kita alami kelak, sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang. Tidak pernah.

Bagian Penutup
Memang indah terasa mengenan masa masa sekolah SMA dahulu ataupun masa masa di bangku kuliah. Betapa nikmatnya berkumpul bersama sama teman teman sekolah atau teman kuliah bersenda gurau, belajar bersama di perpustakaan, mangkal di kantin kampus, ah betapa kenangan indah itu terasa sayang untuk dilewatkan begitu saja. Andai saya bisa mengubah semua itu menjadi kembali seperti dahulu, dan saya diizinkan untuk kembali ke masa silam tentu semua orang menginginkan hal yang sama. Andai waktu memang bisa kembali ke masa dulu tentu kita semua akan berbuat baik. Namun sayangnya kita tidak pernah tau kalaw akhirnya nasib membawa kita hingga seperti sekarang ini. Saya rasa lebih tepat Takdir ketimbang penyebutan nasib yang berkonotasi pasrah itu. Kalaw kita memang sudah ditakdirkan akan menjadi seperti ini, ya inilah buah dari hasil perbuatan kita sendiri, dan kita sendiri yang menanggungnya.

Penyesalan memang selalu datang terakhir. Tidak pernah saya dengar orang menyesal di awal. Semuanya sudah terjadi. Orang bilang nasi sudah menjadi bubur, walaupun saya juga penggemar bubur ayam di depan kantor yang terkenal enaknya itu. Nah tidak etis rasanya kita mengutuk sang waktu yang memang sudah tidak bisa kembali lagi ke seperti semula. Hidup yang cuma satu kali ini amat disayangkan jika dilewatkan begitu saja tanpa menorehkan catatan emas atau prestasi yang membanggakan, setidaknya berbangga pada diri sendiri bisa berbuat sesuatu kebaikan bagi diri sendiri, dan semoga juga buat kebaikan orang lain. Berbagai kendala, godaan, hambatan, cobaan, dan ujian bagi setiap orang sudah pasti akan dilalui. Betapa nikmatnya terasa bagi kita semua jika semua kendala, godaan, hambatan, cobaan, dan ujian bisa kita atasi dan tentunya dengan pertolongan dari Allah SWT.

Andai Aku bisa kembali ke masa lalu...

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog