Jual Milagros disini
Loading...

Hanya Satu Kata : Bersyukur


Dear Blog. Hari demi hari kulalui dengan urutan berbagai aktifitas dan kegiatan sehari hari yang terasa rutin yang itu itu saja dari waktu ke waktu, dan semua itu saya jalani dengan sepenuh hati sepenuh cita dalam diri dan juga sepenuh harapan akan masa depan yang lebih baik. Berbagai cobaan, tantangan dan rintangan hidup sudah saya alami, dan itu akan terus berlangsung hingga masa yang tidak saya ketahui kapan akan berakhir. Hidup ini memang terasa amat indah jika kita menyadari akan penghargaan dari hal hal yang sekecil sekalipun sebagai tanda rasa bersyukur kita kepada Allah SWT Maha Pengasih Maha Penyayang.

Hal hal yang remeh sekalipun seperti mengedipkan mata, bernafas, menggerakkan kedua tangan kaki, serta aktifitas keseharian lainnya yang kita lakukan dengan normal adalah salah satu nikmat dan karunia dari Allah SWT. Tidakkah kita semua harus menyadari bahwa hal hal sekecil seperti itu amat mahal bagi mereka yang kurang beruntung. Mengapa saya katakan demikian, coba liatlah di sekeliling mu. Betapa banyak orang yang kurang beruntung ingin bertukar tempat dengan mu. Inilah Tema yang saya coba angkat pada tulisan hari ini yakni hanya satu kata. Ya hanya satu kata yakni "bersyukur". Ingatlah selalu betapa kita harus bersyukur setiap saat setiap waktu.

Melihat Ke Bawah
Judul tulisan pendek saya hari ini "Hanya Satu Kata" sudah diketahui jawabannya pada paragraf kedua di atas. Ya satu kata itu adalah "bersyukur". Seperti yang sudah saya singgung di atas bahwa sebaiknya kita mensyukuri hal hal terkecil bahkan remeh sekalipun dalam hidup ini yang seharusnya kita sukuri. Judul tulisan pendek saya hari ini "hanya satu kata" persis sama dengan judul lagunya Kang Harry Mukti yang amat kondang itu. Harry Mukti, mantan penyanyi era 80-an yang aktif berdakwah menjadi idea dan inspirasi bagi tulisan saya pada hari ini. Ya satu kata itu adalah bersyukur.

Seperti yang disinggung di atas betapa banyak orang yang ingin bertukar tempat dengan kita yang diberkahi dengan fisik dan tubuh yang normal. Coba saja kita bayangkan betapa nikmatnya kita makan dengan tangan yang normal, di saat orang lain yang tidak seberuntung kita tidak dapat makan dengan menggunakan kedua tangannya yang cacat. Tidakkah itu suatu "kemewahan" bagi kita yang normal. Kalau kita pandai bersyukur nikmat menggerakan kedua tangan adalah harga yang harus kita bayar dengan rasa bersykur, dan tidak menggunakan kedua tangan kita itu untuk hal hal yang tidak baik. Bayangkan saja jika anda sekarang tidak memiliki kedua tangan, apa yang anda rasakan ketika melihat orang lain memiliki tangan yang lengkap. Kerinduan akan tangan anda kembali tentu terasa. Nah rasakanlah itu seolah olah anda tidak memiliki kedua tangan, dan dari sanalah kita bisa merasakan betapa bersykurnya kita diberi Allah SWT kedua tangan yang normal.

Begitu juga dengan (maaf) aktifitas buang air besar atau disingkat dengan BAB (baca : be a be) yang biasa kita lakukan setiap hari di waktu pagi, atau diwaktu kapan saja saat perut kita mules itu adalah sebuah "kemewahan". Terkesan jorok memang tapi tidak dalam artian rasa bersyukur kita diberikan kemudahan untuk melakukan kegiatan be a be itu. COba liatlah ke sekeliling mu betapa banyak orang yang ingin bertukar tempat dengan mu.

Banyak orang yang harus menjalani operasi dengan biaya berjuta juta mahalnya hanya untuk bisa mengeluarkan (maaf) kotoran tubuhnya itu, akhirnya bisa dilakukan dengan melakukan bedah ditubuhnya sehingga kotoran itu bisa tersalurkan. Nah kita semua yang diberikan kesehatan fisik dan tubuh yang normal hingga bisa melakukan aktifitas be a be dengan lancar sebaiknya bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki. Nah melihatlah ke bawah, mereka yang papa dan mengalami cobaan hidup yang berat tidak seperti kita yang sudah banyak diberikan nikmat dari Allah SWT. Seperti yang sudah ditulis dalam kitab suci Al Quran, janganlah kita mendustai nikmat Allah SWT yang sudah kita rasakan sejak kita dari bayi hingga dewasa sekarang ini.

Sebagai Perisai Diri
Dengan kita banyak mendekatkan diri kepada sang pencipta, Allah SWT, saya yakin hal hal yang bisa menggiring kita ke lembah dosa bisa dihindarkan sejauh mungkin. Cobaan memang ada dan sudah disediakan oleh Allah SWT, dan DIA memang menguji kesetiaan dan kesabaran hamba hambaNYA dengan berbagai cara. CObaan bisa berupa kenikmatan hidup, dan cobaan juga bisa berupa musibah yang menimpa kepada diri kita. Kesabaran adalah jiwa dalam diri kita yang seharusnya kita jaga dan kita pertahankan sekuat tenaga.

Namun berdasarkan fakta sejarah dan kita pun tahu semua, banyak orang yang lulus dengan predikat "cum laude" jika diberikan kesulitan hidup, kemiskinan, dan rintangan. Betapa banyak orang yang merintih berdoa agar musibah yang dialaminya disingkirkan dan diganti dengan kemudahan. Dengan mengalami musibah lah, kita menjadi dekat kepada Allah SWT. Namun celakanya, saat kesenangan itu datang, kenikmatan dunia yang gemerlap itu hinggap pada kita, dengan pongahnya menyatakan hal itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri, dan tidak mau sportif mengakui bahwa ada tangan ALLAH SWT yang membantu kesuksesan dirinya.

Akhirnya bisa ditebak, kita lupa untuk bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita itu. Jadi apakah dengan harus mengalami musibah dan cobaan dulu kita jadi dekat kepada Allah SWT? Saya rasa tidak. Bahkan dengan kenikmatan dan kemudahan yang kita miliki sekarang ini bisa menjadi "jalan" bagi kita untuk lebih mensyukuri nikmat yang Allah SWT Berikan kepada kita semua. Inilah poin penting di sub kedua tulisan saya hari ini, betapa kita harus bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita dikala kita susah maupun senang. Hanya dengan bersyukur pulalah kita tentunya akan meniadi perisa diri kita dan tidak akan sembarangan lagi memandang orang lain, dan tidak mentertawakan orang lain yang tidak seberuntung diri kita. Ingatlah bahwa dunia ini bagaikan roda pedati yang terus berputar sesuai porosnya. Saat ini kita memang di atas dan mumpuni di setiap sisi kehidupan, tapi ingatlah suatu saat kita akan berada di bawah, terpuruk dalam dalam. Roda kehidupan akan selalu berputar, dan setiap dari diri kita tentu akan mengalami apa yang dinamakan dinamika kehidupan. Pasang dan surut. Apakah anda percaya itu semua?

Bagian Penutup
Sebagai bagian penutup dari tulisan pendek ini, adalah pesan yang ingin saya sampaikan kepada diri saya sendiri untuk selalu dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan tidak bermain main dengan bahaya di sekitar saya sendiri. Bahaya memang selalu siap menerkam diri saya dan saya pun harus menyadari akan kekeliruan langkah yang saya ambil kemarin, sekarang dan juga pada masa yang akan datang. Waktu yang berputar begitu cepatnya sampai saya tidak menyadari bahwa usia saya sekarang sudah tidak muda lagi. Kita semua pun begitu, dan hidup akan terus berjalan sebagaimana waktu yang terus bergerak maju.

Anda yang saat ini berusia belia dan amat muda mungkin belum tahu makna kehidupan dan kewajiban orang tua untuk membimbing mereka , generasi kita yang akan datang. Sedangkan kita yang sudah tidak muda ini tentu akan segera menyongsong waktu masa depan, dan itu akan berdampak pada fisik kita yang akan segera menjadi renta dan tua. Setiap orang akan mengalami masa masa ke emasqan pada jamannya hingga pada suatu masa kita akan menjalani hari hari akhir kita sebagai persiapan menuju "masa depan". Ini memang takdir yang akan kita alami semua. Saat ini bolehlah kita berbangga akan waktu muda, tapi kelak cepat atau lambat kita akan segera menggantikan posisi orang tua kita berusia lanjut. Nah siapkah anda semua memasuki masa tua kelak nanti? Bekal apa yang harus anda siapkan untuk memasuki masa masa itu? Bukannya menakuti tetapi ini pasti terjadi.

Kita, manusia, hanya diberikan kesempatan hidup satu kali. Satu periode. Saat kita lahir dalam belaian dan kasih kedua orang tua yang mengasuh diri kita yang tidak berdaya. Hingga pada akhirnya kita beranjak dewasa, dan kembali menjadi orang tua yang mengasuh anak anaknya hingga mereka kelak dewasa, dan mandiri dan mengakhiri generasi kita. Cobalah merenung, dan anda akan saya ajak menatap masa depan, dan ini bukan ramalan karena saya tidak percaya akan ramalan. Kita semua akan mengalami masa masa yang kata orang masa tua, nah apa yang bisa anda lakukan jika sudah menjadi kakek dan nenek? Tentu anda akan dikelilingi dengan anak cucu yang menghibur anda, dan aktifitas masa tua barangkali hanya diisi dengan ibadah kepada Allah SWT dan pasrah menghadapi hari "H" berupa kematian. Saya bukannya menakuti, tapi ini memang sudah ditulis dalam Al Quran, bahwa setiap jiwa akan mengalaminya. Jadi beribadah dan bersyukur kepada Allah SWT tidak harus menunggu masa tua itu datang. Mereka yang sudah berangan angan ingin naik haji ke tanah suci Makkah tidak harus menunggu tua dahulu, dan kalau memang kesempatan itu ada, mengapa tidak dilakukan di kala muda.

Sekarang kesempatan untuk berbuat baik terbuka lebar. Masih banyak kesempatan yang bisa kita genggam, dan kesempatan untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT masih terbuka lebar. Kita tidak akan pernah tahu sampai kapan nafas ini masih diberikan oleh Allah SWT. Betapa banyak kabar berita di media tanah air, orang yang sehat walafiat dengan dukunagn keuangan yang baik serta gaya hidup yang sehat tiba tiba dipanggil menghadap Allah SWT dengan tiba tiba. Kematian adalah misteri, dan misteri itu hanya milik Allah SWT yang sebaiknya bukan kita takuti. Jadikanlah "masa depan" itu sebagai warning dan peringatan bagi kita semua untuk bisa memanfaatkan waktu barang sedetik pun untuk terus melakukan kegiatan amal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tidak semena mena dengan orang lain, apalagi mengambil sesuatu yang bukan milik kita sendiri. Ingatlah selalu bahwa bersyukur atas nikmat yang kita miliki adalah jembatan emas bagi diri kita untuk bisa menjaga diri sendiri dan juga keluarga dari hal hal yang tidak baik.

Hanya satu kata : bersyukur

3 comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog