Jual Milagros disini
Loading...

Ke Pegadaian? Mengapa Tidak

Dear Blog. Nah kali ini saya cuba posting pendek saja ya soale tadi dari pagi saya harus ke pegadaian karena ada urusan penting. Hehee dah tau lah pokoknya kalaw urusannya sudah sampai pegadaian itu cuma dua urusannya. Kalaw nda menggadaikan barang atau menebus kembali barang yang sudah kita gadaikan.

Tapi jangan salah ya tidak selamanya orang yang kepegadaian itu orang yang kepepet sama uang. Jangan salah loh sekarang malah urusan ke Pegadaian banyak yang dilakoni orang berdasi alias orang yang tidak masalah dengan uang. Karena pada prinsipnya memang Pegadaian memudahkan masyarakat memperoleh dana segar tanpa harus buka rekening. Cukup menyertakan barang yang akan kita gadai, dan tanpa harus berlama lama uangnya bisa cair menit itu juga. Hebatkan. Malah barang kita aman karena dijaga dan dilindungi.

Memang benar begitu mudahnya Pegadaian dalam memberikan akses dana segar dan cepat kepada masyarakat yang ingin mendapatkan dana atau uang segar apalagi saat menjelan Lebaran yang tidak lama lagi akan tiba ini. Nah Pegadaian merupakan salah satu solusi yang jitu buat masyarakat memperoleh dana segar (uang tuna-red) tanpa harus memiliki akun atau rekening, dan tanpa harus melalui tahapan wawancara segala macam. Cukup anda datang ke kantor Pegadaian terdekat, bawa barang anda yang dititipkan, isi formulir, dan mudah sekali uangnya bisa anda bawa pulang menit itu juga. Sudah saya singgung dalam paragraf di atas.

Jangan Ngutang, Pilih Pegadaian aja
Semakin geli saja ketika melihat tingkah pola masyarakat Indonesia yang terkesan hobi ngutang tapi malas bayar. Untuk itu biasanya para tetangga yang notabene punya uang nganggur dan mampu menolong tetangga lainnya yang sedang kesulitan ekonomi lantaran tak ada uang simpanan jadi malas meminjami. Bisa karena saking seringnya berhutang kemudian ‘lupa’ membayar, atau sudah ditagih berkali-kali tapi tak juga ada pengertian. Kasus yang terjadi di masyarakat lebih sering, yang ngutangi malu menagih dibanding dengan yang ditagih. Dunia memang semakin edan rupanya.

Di desa-desa misalnya, jika sudah tidak ada individu yang mampu jadi tempat pelarian ngutang, bank kredit ‘abal-abal’ jadi tempat tujuan terakhir yang mau tak mau harus disinggahi. Begitu banyak bank perkreditan rakyat yang terselip di lapisan masyarakat khusunya mereka kaum menengah kebawah yang memfasilitasi kredit pinjaman dengan bunga yang mampu mencekik leher. Selain bunga tinggi yang diwajibkan untuk dibayar, biasanya sistem pembayarannya juga dilakukan penagihan setiap hari. Bila kemampuan si pengutang membayar seminggu sekali, tentu besar bunga yang harus di bayarkan berbeda lagi jumlahnya.

Yang aneh adalah, kebiasaan masyarakat Indonesia seolah gengsi bergadai barang ke pegadaian. Padahal dari hasil pengamatan saya selama ini, kantor pegadaian sudah bercecer dimana-mana mulai dari desa hingga kota besar seperti Jakarta. Sistemnya pun mulai beragam, seperti halnya bank. Kini tak hanya mengandalkan sistem konvensional saja, tapi juga sistem syariah. Padahal tidak hanya melayani pinjam gadai, pegadaian juga melayani pinjaman uang untuk pribadi dan masyarakat pengusaha mikro, tetapi juga melayani pinjaman dengan jaminan barang sampai tempat penitipan barang dan surat berharga.

Iklan sosialisasi pegadaian yang dimodeli oleh pesinetron stripping setampan Dude Harlino yang dikenal oleh ibu-ibu pecinta dunia sinema elektronik mungkin kurang diserap isinya oleh masyarakat. Hanya segelintir masyarakat yang tahu persis akan fungsi pegadaian yang mau bekerjasama dengan kantor yang berlogo timbangan berwarna hijau tersebut.

Pegadian Solusi Tepat
Sangat disayangkan memang. Padahal bila masyarakat tahu persis akan fungsi pegadaian kemiskinan yang menjerat karena hobi ngutang pada pihak yang seperti lintah darat bisa sedikit dimusnahkan. Bukankah pegadaian juga memberikan batas toleransi pembayaran pinjaman atau penebusan barang gadai sesuai kemampuan? Toh bila masa tenggat yang telah disepakati sebelumnya belum mampu dipenuhi kita tinggal mengajukan permohonan perpanjangan. Meskipun dalam sistem pegadaian ada biaya administrasi dan sedikit bunga yang tetap harus dibayar, pun nilainya tak sebesar bunga yang mekar di bank abal-abal bukan?

Inilah kekurangan pandaian masyarakat Indonesia. Kurang pandai memanfaat apa yang ada untuk mengatasi masalah tanpa masalah. Masyarakat Indonesia lebih menyukai mengatasi masalah dengan cara instan yang justru malah akan memperpanjang masalah. Mulai sekarang, ayo masyarakat Indonesia! Jangan membiasakan ngutang lagi, tapi ayo kepegadaian…

jadi ke Pegadaian, Siapa takut.........

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog