Jual Milagros disini
Loading...

Evaluasi Ramadhan Ku

Seperti yang sudah kita ketahui bersama sama bahwa dalam waktu kurang dari 45 (Empat Puluh Lima) hari lagi umat muslim di seluruh Indonesia dan dunia akan memasuki bulan Ramadhan 1433 Hijriah.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah di dalamnya terdapat banyak sekali ampunan dan juga pahala yang ditebar dan diobral dan siap di grab (dipungut) oleh umat muslim di seluruh Indonesia dan juga dunia. Saya merasa apa yang sudah saya lalui dalam ramadhan ramdhan sebelumnya sangat tidak memuaskan, dan saya juga mengakui bahwa saya juga banyak melakukan kemungkaran, kekhilafan dan kesalahan fatal yang bisa saja menggerus pahala puasa saya pada ramadhan ramdhan sebelumnya.

Berpuasa Ramadhan adalah suatu kenikmatan. Jadi jika anda diberi kesempatan untk bertemu lagi dengan bulan suci penuh berkah, Ramadhan, seharusnya anda bersyukur dan memohonkan ampun serta ucapan terima kasih kepada Maha Pencipta, Allah SWT. Ini juga berlaku pada diri sendiri. Sudah sering kali saya diingatkan oleh orang untuk selalu beramal, dan berbuat baik bahkan tanpa bulan Ramadhan sekalipun, namun imbauan dan saran dari orang lain selalu masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan. Saya memang perlu diberi Pelajaran yang keras agar telinga ini bisa mendengar nasehat baik dari orang lain.

Evaluasi Diri
Beberapa hal yang mau saya sebutkan di bawah ini bukan bermaksud membuka aib diri saya sendiri dalam blog yang bisa saja dibaca dengan mudah oleh blogger lain. Namun apa yang saya tulis di sini hanyalah evaluasi bagi diri saya sendiri agar hal hal yang saya sebutkan di bawah ini tidak akan terjadi, tidak boleh terjadi dan seharusnya tidak terjadi di masa yang akan datang. Tidak banyak blogger yang mau membuka "borok" nya sendiri. Saya sendiri tidak menganggap apa yang saya tulis dibawah ini sebagai aib. Hal ini biasa saja, namanya juga evaluasi diri.

Saya sengaja melakukan ini karena saya pikir jauh lebih baik daripada membuka aib dan borok orang lain. Saya tidak mengatakan hal hal di bawah ini sebagai aib, karena memang tidak diperkenankan oleh agama. Bahkan Allah SWT pun melarang diri kita menjelekkan diri sendiri. Menjelekkan diri sendiri aja tidak boleh apalagi menjelekkan orang lain. Harapan saya adalah agar hal hal yang kurang terpuji dalam diri saya ini selama proses Ramadhan pada taun sebelumnya tidak terjadi pada diri saya sendiri. Semoga saja juga oleh orang lain juga bisa menarik manfaat dan serta kebaikan dari tulisan ini.

  1. Tarawih Bolong Bolong
    Nah aktifitas sholat Tarawih memang umum dilakukan pada setiap bulan Ramadhan. Namun untuk aktifitas yang satu ini kadang saya melakukannya dengan tidak konsisten. Ini pernahterjadi pada bulan Ramadhan tahun sebelumnya. Kadang di 10 (Sepuluh) hari pertama saya Tarawih begitu gegap gempita. Tetapi saat memasuki 10 (Sepuluh) hari terakhir aktifitas Tarawih saya sudah kehilangan semangatnya. Entah karena mau lebaran atau sibuk mau buat kue. Hehehee. Yang jelas Tarawih tidak pernah 100 persen saya lakukan di Masjid karena berbagai kendala yang memang tidak bisa saya hindari sepenuhnya.

    Bukan bermaksud menjadikan alasan berkeluarga sebagai justfifikasi (pembenaran) saya lalai dalam Tarawih, tetapi memang pada kenyataannya demikian. Saya memang harus memiliki alasan yang masuk akal mengapa saya sampai lalai atau tidak konsisten Tarawih di masjid. Salah satu alasannya adalah kesibukan mengurus keluarga. Jadi Tawarih yang saya sebut sebagai "bolong bolong" di sini bukan berarti bolong dalam artian absen tarawih. Bolong di sini saya maksudkan tidak penuh Tarawih di Masjid. Kadang Tarawih sendiri di rumah.

    Dengan posisi saya sebagai kepala rumah tangga, denagn karunia dua anak yang masih kecil, dan seorang istri di rumah, menjadikan saya tidak konsentrasi jika Tarawih di Masjid. Bayangkan meninggalkan istri dan anak di rumah sendirian, sedangkan saya sebagai satu satunya lelaki dewasa ke Masjid. Walaupun dekat tetapi hati was was karena tidak ada lelaki dewasa di rumah menjadikan saya harus bervariasi dan "improvisasi" dalam Tarawih. Kadang di Masjid, kadang pula di rumah.

  2. Jarang Tadarus Al Qur'an
    Nah apalagi yang satu ini. Kendala dasar adalah saya sendiri "gagap" dalam mengaji Al Quran dalam artian standar adalah kurang lancar dalam membaca Al Quran. Selain juga kurang mampu dalam melantunkan ayat Suci Al Quran dengan lagu yang Indah, saya juga agak "gagap" dalam membaca huruf huruf Al Quran dalam Al Quran besar.

    Memang dahulu waktu saya kecil saat masih duduk dibangku SD dan SMP, saya kurang memberikan waktu yang cukup untuk belajar membaca huruf Al Quran. Dahulu pernah masuk pesantren atau pengajian level Jus Amma saat saya duduk di bangku SD, namun sampai sekarang saya pun masih kurang lancar membaca Al Quran. Anda boleh mentertawai saya, karena memang saya kurang pandai dalam hal ini.

    Penah juga sang istri tercinta yang siap mengajari saya belajar membaca huruf Al Quran, namun tawaran itu jarang saya perhatikan dengan seksama. Perhatian saya untuk hal yang satu ini juga kurang begitu apresiasi. Saya sendiri tidak mengerti mengapa hal ini selalu terjadi dan selalu berulang terjadi. Rasa malas yang begitu kuat dalam diri saya ini menyebabkan saya jarang membuka lembaran kitab suci Al Quran.

    Bahkan dalam 1 (satu) tahun bisa dipastikan saya jarang membuka kitab suci Al Quran. Paling banter hanyalah buku Yassin itu pun hanya pada saat ada undangan karena ada yang tetangga atau orang yang meninggal dunia. Jadi kalaw tidak ada undangan meninggal dunia, bisa dipastikan tidak disentuh sama sekali. Memang kacow saya ini.

    Nah apalagi saat Ramadhan tahun sebelumnya, untuk membuka lembaran Kitab Suci Al Quran itu rasanya berat sekali. Mungkin saja para setan dan iblis dari dasar neraka sudah menghinggapi mata saya yang selalu saja mengantuk dan rasa malas yang amat kuat untuk membuka dan mengaji Al Quran sudah sedemikian dalamnya. Ini evaluasi dalam diri saya yang harus saya perangi secara terbuka. Perang terhadap rasa malan untuk Tadarus Al Quran

  3. Sholat Malam (Tahadjud).
    Nah ini juga bahan evaluasi dalam diri saya. Saya tidak habis pikir, dahulu sejak kembali dari Jogjakarta tahun 2005 setelah pulang dari menikah di Jogjakarta, dan istri tercinta sudah diboyong ke Pontianak. Saya masih ingat saat masih belum dikaruniai anak (Sekarang anak sudah 2-red) dan saat itu sekitar tahun 2005 kalaw tidak salah. Kami saat itu masih mengontrak rumah di Komplek Griya Husada Sei Raya Dalam (Sekarang juga masih ngontrak-red). Nah yang namanya sholat Malam atau Tahadjud hampir setiap malam saya lakukan dengan konsisten.

    Saya juga tidak tau mengapa saat itu begitu rajinnya saya sholat Malam atau Tahadjud. Mungkin karena pada taun 2005 itu aktifitas istri masih "menganggur" dalam artian belum bekerja setelah menikah dia baru wisuda. Dan kegiatan di rumah kontrakan juga tidak banyak karena memang tidak ada perangkat TV di rumah. TV di rumah memang bisa jadi sarana hiburan dan informasi, namun TV dirumah juga bisa membetot aktifitas ibadah kita kepada aktifitas lain yakni menonton. Mungkin karena tidak ada TV di rumah saat itu, dan tidak ada lagi aktifitas di rumah , menyebabkan saya bisa istirahat dan tidur lebih awal sehingga banyak terjaga dan bangun tengah malam dan mendirikan Sholat Malam atau Tahadjud.

    Kini aktifitas sholat Malam atau Tahadjud saya sudah amat jarang dilakukan pada momen momen hari hari biasa bukan di momen Ramadhan. Sedangkan evaluasi diri ini saat Ramadhan tahun taun sebelumnya juga tidak kalah menorehkan prestasi yang membosankan dan tidak menggembirakan. Catatan rapot saya masih merah untuk aktifitas sholat Malam seperti ini, dan saya menyadari itu.

    Saya tidak mau dianggap sebagai orang yang lupa diri atas berbagai kenikmatan yang sudah diberikan. Dahulu sewaktu belum dikaruniai anak, saya rajin sholat Malam. Kini sejak lahirnya dua anak dan berbagai rezeki lainnya yang kami terima sekeluarga, malah membuat saya jadi "setan" dan melalaikan sholat malam. Ini harus dicegah. Saya harus berubah.

Nah dua aktifitas yang sudah saya sebutkan di atas memang lazim dilakukan pada setiap bulan Ramadhan. Saya mengakui bahwa dua aktifitas yang saya sebutkan dengan jelas di atas jarang sekali saya lakukan di setiap memasuki bulan Ramadhan. Saya harus memiliki kekuatan yang kokoh dan tangguh agar dua hal di atas tidak terjadi lagi pada Ramadhan kali ini. Dan saya pikir adalah hal yang bagus sekali jika kekurangan yang saya lakukan pada tahun sebelunya dan dilanjutkan pada Ramadhan yang akan datang.

Semoga saya memiliki bekal yang kuat, tekad yang membara dan semangat baja untuk bisa melakukan salah satu atau mungkin semua poin tersebut di atas. Apakah anda juga merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan di atas? Mengabaikan aktifitas mulia dalam bulan Ramadhan yang sudah saya sebutkan di atas?. Jangan meniru apa yang saya lakukan. Saya saja ingin memperbaiki kesalahan dan kekurangan saya selama bulan Ramadhan tahun lalu. Saya ingin sekali meninggalkan "rapot merah" dan berprestasi di ramadhan kali ini.

Saya ingin ramadhan kali ini lebih berprestasi dibanding Ramadhan sebelumnya.
Saya akan berusaha sekuat tenaga. Insya Allah saya berhasil

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog