Jual Milagros disini
Loading...

Tidak Semua Orang Senang Dikritik

Kritik. Judul inti dari tulisan saya pada hari ini. Hmm. Siapa yang suka dikritik? Siapa yang suka mengkritik?. Kritik mengkritik adalah hal yang biasa dalam demokrasi di negara kita, dan tidak semua orang senang atau suka dikritik. Apakah anda suka dikritik sekaligus suka mengkritik orang lain?.

Ataukah anda lebih suka mengkritisi orang lain tetapi tidak mau dkritik orang lain?. Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada saya maka akan saya jawab. Ya saya suka mengkritik orang lain tetapi saya kurang suka dikritik. Loh kok gitu jawaban saya sih. Saya nda munafik. Memang itulah tipe saya saat sekarang ini, entah untuk waktu yang akan datang.

Bukan hal mudah untuk mengakui kekurangan diri sendiri. Orang cenderung untuk menutupi kesalahannya, dan berlindung dibalik kesombongan jabatan yang diembannya tanpa mau legowo mengakui kekurangan dirinya. Saya tidak seperti itu. Saya ini jelek menurut anda, dan saya menilai hal itu wajar dan setiap orang berhak menyatakan pendapatnya.

Bukankah pernyataan kalau saya jelek adalah suatu pendapat. Ia bukanlah fitnah atau mendiskriditkan orang lain. Menurut pendapat saya beda sekali antara menjelekkan orang lain, memfitnah dengan kritik. Masing masing sesuai dengan konteksnya, dan tidak bisa dipukul rata.

Definisi Kritik
Anda suka sepak bola? Pada umumnya kaum adam (baca: cowok) yang suka sekali sama demam Sepakbola. Kaum hawa juga banyak loh yang suka bola. Entah bola atau "bola". Hehehee. Eits jangan ngeres gitu donk. Yang saya maksud tentu permainan sepak bola. Nah dalam permainan sepakbola juga dikenal dengan permainan keras. Nah permainan keras sangat beda dengan permainan kasar. Kasar sudah tentu melanggar peraturan permainan, sedangkan sepakbola dengan ritme permainan keras tidak bisa dianggap melanggara peraturan sepakbola. Nah dari sinilah perbedaan itu bisa saja tipis.

Apa sih batasan atau definisi kritik itu sebenarnya? Baik akan saya coba jawab. Menurut wikipedia Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.

Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani kritikós - "yang membedakan", kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuna κριτής, krités, artinya "orang yang memberikan pendapat beralasan" atau "analisis", "pertimbangan nilai", "interpretasi", atau "pengamatan". Istilah ini biasa dipergunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan.

Selain itu dalam Wikipipedia Bahasa Indonesia juga menyebut kritikus modern mencakup kaum profesi atau amatir yang secara teratur memberikan pendapat atau menginterpretasikan seni pentas atau karya lain (seperti karya seniman, ilmuwan, musisi atau aktor) dan, biasanya, menerbitkan pengamatan mereka, sering di jurnal ilmiah. Kaum kritikus banyak jumlahnya di berbagai bidang, termasuk kritikus seni, musik, film, teater atau sandiwara, rumah makan dan penerbitan ilmiah. Nah dari sini kita sudah mendapatkan pegangan ilmiah berupa batasan dan definisi daripada kata "kritik". Dari sini kita sudah mendapat satu kesepakatan bersama.

Belajar Menerima Kritik
Terus terang saya termasuk orang yang kurang suka dikritik. Mungkin kalau kritik yang disampaikan kepada saya bersifat tendensius, dan menjatuhkan di depan orang banyak, saya rasa itu tidak bijak. Saya masih bisa menerima kritik yang tajam sekalipun jika disampaikan secara santun dan tidak menjatuhkan. Siapa yang mau namanya dijelekkan di depan orang banyak? Saya saja tidak mau, apa anda mau?

Saya rasa tidak ada yang mau namanya jelek di depan orang lain. Orang cenderung ingin namanya baik walau tidak harus harum didepan publik atau di depan orang banyak. Belajar menerima kritik bukan hal yang mudah. Saya sendiri masih belajar menerima kritik orang lain. Apakah anda mau belajar seperti saya? Itu sebuah pertanyaan yang anda sendiri yang bisa menjawabnya. Saya harus belajar untuk bisa menerima kritik orang lain.

Jika saya mahir dan pandai mengkritisi orang lain, maka sebagai konsekuensi logis juga sebaliknya saya juga harus bisa menerima kritikan orang lain. Jadi dengan demikian ada komunikasi dua arah yang adil dan beradab. Hah beradab? Apa hubungannya hahahahhaaa. SOrry I am joking hehehe. Ini terkandung makna sebelum orang lain, maka dari diri sendiri dulu yang harus benar. Betul apa tidak nih penonton?

Kadang saya sendiri mengkritik diri saya sendiri yang kurang becus dalam pekerjaan. Memang demikian kok. Sebelum orang lain "smash" kan lebih baik saya evaluasi diri sendiri. Apalagi di usia saya yang sudah kepala 4 ini tentu waktu akan sangat berharga buat saya. Kalau dulu saat masih berusia 20 tahun begitu banyak waktu yang saya hambur hamburkan tiada guna, kini saya diberi kesempatan lagi untuk memperbaiki diri di sisa umur saya sekarang ini.

Kadang saya membayangkan diri saya ini 20 tahun kemudian. Umur manusia memang ditangan Yang Maha Kuasa - Yang Maha Bijaksana - Yang Maha Perkasa-DIAlah ALLAH SWT. Namun andai saya diberi umur panjang hingga saya kakek kakek, tentu saya mau waktu muda yang diisi dengan segudang aktifitas bermanfaat, bekerja, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apakah anda mau waktu anda terbuang sia sia seperti yang pernah saya lakukan sekarang ini?.

Juga soal menikah. Saya saja kadang ada rasa "penyesalan" kalaw menikah itu amat menyenangkan dan membahagiakan mengapa tidak dari dulu saya lakukan?. Karena belum punya apa apa atau sebab lain menyebabkan saya takut menikah saat itu. Yang sudah ya sudahlah, kini dengan karunia amanah Allah SWT berupa sepasang anak (putra dan putri) sudah semakin lengkap kehidupan saya. Sekarang bagaimana saya lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sudah tidak ada lagi yang saya pikirkan sekarang ini, selain menafkahi keluarga dan beribadah. Bagaimana dengan anda? Hahaha dari kritik kok bahasannnya ke Menikah seeh? Huahahahahaa.

Mengkritik Bos
Nah untuk sub judul ini saya harus ekstra hati hati. Salah sedikti saya menulis bisa fatal akibatnya bukan karena saya masih KKA alias Karyawan Kontrak abadi yang kini sudah tidak saya permasalahkan lagi. Bukan bukan itu. Halah sok lu Sep mentang mentang istri mu sudah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Oh juga bukan bukan karena itu juga. Lalu apa donk. Begini saya coba meluruskan saja. Kritik-mengkritik mungkin lazim di satu perusahaan.

Tapi, ada juga perusahaan yang tidak memungkinkan seorang bawahan mengiritik atasannya. Yang jelas, kritik yang biasa dilontarkan pada rekan sekerja tidak serupa dengan kritik pedas yang akan disampaikan pada atasan Anda. Ada juga sistim perusahaan yang mengharamkan karyawannya mengontrol sang bos, tetapi BOS lah yang mengontrol bawahannya. Nah unik bukan?

Saya jadi teringat postingan tulisan salah seorang blogger Jakarta yang menulis di blognya tentang kritik mengkritik bos. Dia bernama Ilowirawan, seorang mahasiswa Angkatan III Konsentrasi Sistem Informasi Manajemen Kesehatan (SIMKES), Minat Epidemiologi Lapangan, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (PS IKM), Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM). Wuih serenteng panjang banged udah kaya kereta api. Hehehe. Ilowirawan menulis bahwa sebagian besar orang berpikir bahwa bila mereka mengkritik bos, maka dampak negatif bakal muncul. Lantaran itulah mereka lebih memilih menutup mulut rapat-rapat.

Dalam buku The Power of Positive Criticism karya Hendrie Weisinger, disebutkan bahwa ada bos yang menerima dengan tangan terbuka kritikan dari bawahan mereka. Yang umumnya tak disukai atasan adalah dipermalukan, terancam, atau diremehkan. Bila Anda memang ingin mengkritik si bos, penting untuk memikirkan dengan matang apa yang akan Anda katakan dan bagaimana caranya.

Selain itu, pastikan bos Anda mau menerima kritik. Untuk itu Anda bisa melihat sikapnya, apakah ia orang yang terbuka atau tidak. Pastikan juga Anda mengkritik orang yang tepat. Bos yang akan Anda kritik adalah atasan langsung Anda, bukan seseorang yang tak secara langsung terkait dengan Anda.

Weisinger juga mengingatkan agar mengkritik hal-hal yang terkait dengan pekerjaan. Anda juga harus tahu benar apa yang akan Anda katakan. Kritik juga harus bermuatan informasi penting dan valid. Hal serupa dilontarkan oleh Christine S, seorang konsultan senior pada PT Corfina Mitrakreasi, perusahaan konsultan SDM.

Baginya, cara kritik tidak dapat digeneralisasikan pada semua hal. Ada beberapa hal yang patut diperhatikan sebelum mengkritik sang bos. Di antaranya, menilik latar belakang, daerah asal, tipikal, dan tanggung jawab sang bos. Selain itu, perlu juga diingat agar kritikan berfokus pada sang atasan saja, dilakukan pada waktu yang tepat, dan telah memperoleh persetujuan dari sang bos.

Jadi memang sepatutnya anda harus mengenal sang bos terlebih dahulu sebelum "menembak" nya dengan kritik. Kita sebagai bawahannya sepatutnya meminta izin dahulu atau meminta persetujuan dari BOS untuk mendapatkan waktu yang tepat untuk berbicara. Jika ia tidak bersedia, tentunya kita juga tidak dapat memaksa. Nah ini namanya kompromi bukan?

Budaya kritik antara Barat dan Timur tidak sama. Di mata Christine, perbedaan tersebut mencuat dari peradaban yang dialami kedua budaya itu. Orang Barat cenderung memiliki pendidikan yang standar dan sama. Alhasil, mereka lebih terbuka ketika harus melontarkan kritik. Ini berbeda dengan warga Timur yang tidak dapat sangat terbuka melontarkan kritik lantaran tidak semua orang memiliki pendidikan yang sama. Akibatnya, ada orang yang terlihat antikritik. Lalu bagaimana strategi yang jitu dan jinak (burung kale jinak-red) untuk mengirimkan kritik kepada sang Bos?

Arvan Pradiansyah, pengamat dan praktisi SDM, membeberkan empat strategi jitu untuk melontarkan kritik pada bos.
  1. Pertama, menjaga harga diri sang atasan. Sebaiknya berikan pernyataan yang tidak akan membuat atasan merasa down
  2. Kedua, kendati kita berniat memberikan kritik, ada baiknya agar disampaikan bahwa kita berencana memberikan saran. Bawahan saja kalau diberi kritik seringkali tidak mau menerima apalagi bos. Sebaiknya juga kata-kata yang kita sampaikan adalah ‘bagaimana kalau…’. Jadi, kita membiarkan dia untuk berpikir sedangkan kita hanya memberi masukan.
  3. Ketiga, orang biasanya baru mau berubah jika dia melihat ada manfaat yang bisa diambilnya dari perubahan tersebut. Jadi, kunci perubahan adalah what in it for me, apa yang dapat saya peroleh dari hal tersebut. ”Sebaiknya kita memberikan saran yang memang dapat memberikan manfaat bagi dia,
  4. KeEmpat, Selanjutnya, gunakan I message, bukan you message. Sebaiknya, pesan yang disampaikan berorientasi pada diri si pemberi kritik, bukan dari orang yang akan dikritik. ”Jadi, jika akan memberi kritik, sampaikan hal-hal yang memang kita rasakan. Misalnya, katakan saja, ‘Saya merasa tertekan.’ Bukan mengatakan ‘Anda menekan saya’,” ungkap Arvan.

Arvan juga mewanti-wanti agar turut menimbang waktu dan situasi yang tepat untuk menyampaikan saran dan kritik. Arvan juga menambahkan kalau memungkinkan, kita selesaikan dulu pekerjaan yang ada baru mengutarakan maksud. Dengan begitu, sang atasan akan merasa senang dulu sebelum mendengar keluhan kita.

Penutup
Kritik yang konstruktif memang amat diperlukan terutama bagi diri saya sendiri agar bisa meningkatkan kualitas dan kemampuan diri sendiri. Seperti kata Mario Teguh The Golden Ways yang sering saya tonton, Mario mengatakan agar kita kita tidak berkompromi dengan penilaian negatif orang lain terhadap diri kita. Tetapi berusahalah untuk meningkatkan kualitas diri agar orang lain memperbaiki penilaiannya terhadap diri kita. Nah setelah saya pertimbangkan apa yang disampaikan Mario Teguh yang parasnya amat mirip dengan rekan saya Efrizan itu memang ada benarnya juga.

Saya memang banyak kekurangan terutama perlakuan orang lain terhadap saya terutama pada kritikan yang langsung ditujukan kepada saya. Sejauh kritik itu dilancarkan dengan profesional dalam arti bukan dalam artian tendensius, merendahkan martabat di depan orang banyak, emosional apalagi kritikan terhadap kekurang diri secara fisik.

Saya pun menyadari kalau saya pernah "membantai" orang lain dengan kritikan super tajam saya di depan orang banyak sehingga mungkin saja dia sakit hati dengan kritikan super saya itu. Hahahaha udah benaran kaya pengikut NII eh salah pengikutnya Mario Teguh The Golden Ways itu hehehehee. Memang kadang menyenangkan juga "membantai" orang ya. Wah kacow saya ini.

Ya sudahlah, yang pasti saya masih banyak kekurangan yang perlu koreksi dan kritikan teman teman. Saya akan memejamkan mata, menenangkan hati dan mendingin pikiran saya untuk bersiap menerima kritikan super dari teman teman semua. Insya Allah semua masukan yang konstruktif, dan kritikan yang membangun akan senantiasa mendapatkan tempat di hati saya yang paling dalam. Setiap manusia memang tidak sempurna. Biarpun sedikit tentu ada cacatnya, begitupula dengan saya yang masih banyak dan segudang kekurangan saya. Mari lengkapi kekurangan saya dengan kelebihan yang teman teman miliki.

See ya....


No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog