Jual Milagros disini
Loading...

Sistim Keamanan Komplek

Keamanan lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama. Ungkapan ini memang tidak berlebihan terlebih sekarang ini banyak sekali terjadi pencurian di kota Pontianak tercinta. Berbagai laporan yang masuk di Kepolisian menyebutkan bahwa pencurian banyak terjadi di lingkungan komplek atau perumahan. Mengapa bisa demikian?

Apakah keamanannya tidak ada maksud saya petugas yang menjaga keamanan komplek yang dibayar seperti satpam tidak menjalankan fungsinya? Bagaimana cara kita mengamankan barang dan harta benda kita sendiri dari ancaman pencurian yang lagi marak sekarang ini. Tulisan kali ini mencoba menawarkan alternatif pemecahan persoalan keamanan di komplek atau perumahan.

Salah satu kelemahan mendasar keamanan komplek yang rapuh dan bahkan mudah ditembus oleh para pencuri adalah letak geografis komplek itu sendiri selain faktor bentuk arsitektur bangunannya yang memang rawan dan membuka peluang terjadinya aksi pencurian. Faktor manusia memang juga berperan dalam hal ini, namun untuk membatasi agar cakupan bahasan saya tidak terlalu melebar, sengaja saya batasi pada sistim atau pola keamanan lingkungan komplek yang saya coba tawarkan di bawah ini

  1. Menggiatkan Ronda
    Nah ini memang sudah amat lazim dilakukan bahkan bukan dikomplek perumahan atau komplek seperti yang saya diami sekarang ini , Komplek Duta Bandara Supadio Pontianak. Rata rata semua perumahan, komplek , atau pemukiman di seluruh Indonesia sudah lama menggiatkan pola siskamling atau kepanjangan dari Sistim Keamanan Lingkungan. Pada dasarnya adalah pola jaga lingkungan berbentuk ronda keliling pemukimannya yang dilakukan oleh satpam atau warga sendiri. Ini memang sudah lazim dan umum dilakukan di masyarakat kita.

    Kewajiban Satpam komplek menjaga keamanan lingkungan sesuai dengan amanat yang diamanatkan kepadanya. Wajar donk karena mereka kan mendapat upah, honor atau gaji atau apalah namanya juga dari hasil iuran warga komplek. Jangan sampai terkesan para Satpam komplek bertugas jaga keamanan komplek sekedar "gugur kewajiban" atau bekerja malas malasan. Jangan sampai mereka makan "gaji buta" dalam artian kerja males tapi duitnya mauk. Jangan datang jaga malam alasannya ketiduran segala. Alasan ketiduran sampai 3 rumah bobol dalam satu malam seperti yang terjadi pada tanggal 1 Mei 2011 lalu (Salah satu rumah yang dibobol adalah rumah kontrakan ku-red). Alasan itu tidak akan diterima akal. Masih beruntung warga yang kebobolan rumahnya tidak menuntut pertanggung jawaban si satpam.

  2. Memperbanyak Satpam
    Nah untuk ide yang kedua ini adalah memperbanyak petugas jaga atau satuan pengaman (Satpam). Memang untuk usulan kedua ini memerlukan banyak dana sudah pasti. Apakah dana yang besar nantinya akan dibebankan kembali kepada warga komplek dengan menaikkan jumlah iurannya?. Sebagai contoh komplek saya sendiri, Duta Bandara Supadio, sudah dikenakan iuran keamanan RT sebesar Rp.20.000,- (Dua puluh ribu rupiah) akan naik menjadi 50 ribu bahkan lebih?.

    Saya kira warga tidak akan keberatan membayar lebih kalau ada jaminan keamanan terjamin dan tidak kebobolan. Memang sih soal menjaga keamanan rumah juga menjadi tanggung jawab orang per orang (tiap kepala keluarga-red), tapi mereka kan digaji. Wajar kalaw kita para warga berharap para satpam komplek sigap dan tanggap dengan tugasnya. Andai petugas jaga (satpam-red) di setujui untuk ditambah (otomatis dana satpam juga bertambah yang berimpak pada naiknya iuran warga), maka petugas jaga (satpam) harus "merata" di seluruh blok dalam komplek.

    Jadi misalnya komplek saya, Duta Bandara, ada blok A-D, maka tiap blok dijaga oleh 1 atau 2 orang satpam. Total keseluruhannya menjadi 8 (delapan) orang Satpam. Dengan perincian satu blok dijaga oleh 2 orang Satpam. Tiap satpam juga dibekali oleh peralatan yang memadai seperti sepeda misalnya, Lampu Senter, dan juga HP. Nah benda benda "ajaib" itu sangat penting untuk menunjang pekerjaannya. Senjata? Eit sabar dulu. Para Satpam komplek tidak perlu lah pake senjata api. Karena memang tidak mungkin untuk disediakan. Sediakan saja pentungan atau senjata lain yang tidak mematikan (lethal weapon-red). Lagian prinsip dasar adalah menjaga keamanan kan? Satpam tidak ditugasi menangkap atau meringkus maling atau pencuri.

  3. Warga Jaga Sendiri
    Ya warga harus menjaga sendiri keamanannya. Apa boleh buat. Kalaw warga komplek berpikir bahwa satpam di kompleknya ngawur , malas, atau tidak dipercaya lagi integritas dan kredibilitasnya dalam menjaga keamanan komplek, apa boleh buat warga komplek sendiri yang harus turun untuk menjaga wilayahnya masing masing.

    Sifatnya locally dalam artian menjaga rumahnya masing masing. Benar seperti kata pihak kepolisian Kalbar, bhwa masyarakat dihimbau untuk menjadi polisi bagi dirinya sendiri. Warga keluar rumah sesuai dengan jam "ronda" yang diaturnya sendiri sendiri. Mereka ronda memang bukan untuk meronda komplek. Warga ronda rumahnya sendiri. Apa boleh buat.

    Warga dihimbau untuk keluar rumah meronda menjaga rumahnya masing masing. Jam ronda fleksibel dan tiap warga disarankan untuk tetap berkoordinasi dengan petugas satpam komplek sebagai back upnya. Jam meronda bisa bebas dipilih mulai dari jam jam yang amat rawan terjadinya pencurian seperti mulai dari jam 2 sampai dengan jam 5 dinihari.

    Apalagi berdasarkan pengalaman banyaknya pencurian terjadi pada jam jam tersebut. Tapi tidak menutup kemungkinan juga jam jam rawan justru terjadi pada siang hari. Teori lama yang menyebutkan umumnya pencuri "beraksi" pada siang hari, karena malamnya sudah ada tuan rumah. Teori ini dipatahkan dengan kenyataan bahwa maling pun tidak perduli siang atau malam, bahkan ada orang dirumah sekalipun. Maling memang mencari lengahnya kita. Okelah hari ini terjadi kemalingan, mungkin tidak akan terjadi dalam 1 bulan ke depan. Maling masih bisa "bersabar" menunggu berbulan bulan kedepan sampai warga lupa dan lengah hingga maling semprul itu beraksi kembali.

  4. Warga Jaga Lingkungan
    Warga bergiliran menjaga komplek. Nah ini usulan saya yang terakhir. Untuk usulan format kemanan komplek yang terakhir ini bisa bersinergi dengan satpam komplek yang memang sudah ditugaskan untuk itu. Warga komplek bisa bermusyawarah menjaga kompleknya sendiri dan membentuk "pasukan" sendiri. Hal ini sudah tentu harus dikoordinasikan dengan polisi setempat atau minimal sudah "sowan" dengan ketua RT atau RW komplek masing masing. Ini penting agar ada pihak yang mengetahui dan bertanggung jawab jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan.

    Selain itu untuk menghindari kesan warga bersiap main hakim sendiri, maka pihak RT/RW dan Kopilisian harus diberitahu atau saling berkoordinasi. Format pelaksanaan ronda warga secara teknis bisa dimusyawarahkan bersama sehingga tercipta suatu kondisi dimana warga komplek seluruhnya dalam kondisi "siaga 1" menjaga keamanan kompleknya. Bisa saja blok A membentuk keamanan swakarsa yang terdiri atas para bapak kepala keluarga "bergerilya" menjaga bloknya. Juga terhadap blok blok lainnya. Dan peran Satpam komplek di sini bersifat back up.

    Format terakhir ini memang belum dilakukan oleh komplek saya, dan keefektifitasnya pun masih belum teruji. Apakah akan berhasil sesuai dengan harapan?. Kendala sudah pasti ada karena tidak semua kepala keluarga bersedia diikutsertakan. Alasan bisa saja ada misalnya sibuklah, pekerjaan masuk malam lah dan lain sebagainya. Memang tidak ada kewajiban atau bersifat pemaksaan. Dari dulu selalu begitu.

    Semuanya terpulang kepada kesadaran warga bahwa lingkungan yang aman adalah untuk kita semua. Kalaw komplek aman, semuanya pasti senang. Dalam benak saya berpikir, jika warga komplek sigap dan siaga menjaga keamanan bahu membahu, para maling akan berpikir dua kali jika akan melancarkan aksinya. Silahkan saja coba, kalaw nda mau remuk tuh badan digebukin warga sebelum diserahkan kepada polisi.
Nah dari sekian banyak alternatif sistim keamanan komplek yang sudah saya sebutkan secara ringkas di atas, manakah yang menurut anda lebih memungkinkan untuk diterapkan. Dengan perkiraan biaya yang murah, kita semua bisa menjaga lingkungan sekitar kita dengan pola yang lebih baik lagi. Terlepas dari secanggih apapun sistim keamanan yang kita terapkan, tidak akan banyak artinya jika kita sendiri tidak menyadari betapa keamanan adalah tanggung jawab kita bersama.

Keamanan adalah untuk kita semua juga, bukan untuk orang lain.

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog