Jual Milagros disini
Loading...

Monyet

Tag : Monyet - Asep Haryono | Monyet - Powered by Blogger
Apa anda tau Monyet?. Saya sendiri saja yang masih awam dalam soal satwa ini suka terkecoh dengan satwa yang satu ini. Saya sendiri , terus terang saja, bingung yang mana yang dimaksud dengan Monyet, beruk, bekantan sampai kera. Apakah semua itu masing masing berbeda antara satu sama lainnya?. Apakah ada kawasan khusus tempat bermukimnya para monyet di Indonesia? Ada kata kawan saya.

Ketika saya tanya dimana itu tempatnya. Dia menjawab ada di Monkey Forest Ubud, Bali. Alahmak, saya saja yang sudah 9 (sembilan) kali berkunjung ke Bali belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di Monkey Forest Ubud yang konon amat terkenal itu. Beruntunglah jika anda sudah pernah ke Monkey Forest, Ubud, dan semoga saya punya kesempatan berkunjung ke pulau monyet itu hehehe. Pulau? Emang pulau?

Tema tulisan saya kali ini memang menyoal (ulangan kalee-red) tentang mahluk Tuhan yang bernama Monyet. Ya Monyet yang dalam bahasa Inggris sederhana diterjemahkan dengan "monkey". Banyak tokoh kartun yang diputar di Indonesia yang mempersonifikasikan mahluk yang konon terkenal amat rakus ini. Ah masa iya sih rakus sekali.

Bukankah yang rakus itu tikus. Ah yang namanya rakus tidak hanya berlaku buat para monyet dan tikus saja. Manusia saja juga kecenderungan punya sifat seperti kedua mahluk itu. Manusia Rakus. Rakus apa? Ya rakus apa saja yang bisa dilahapnya. Berbicara soal rakus, pasti asosiasi opemahaman kita soal makanan. Ya Makanan. Rakus pada Makanan. Coba liat saja tikus. Apa saja dierat mahluk yang bernama tikus itu. Jangankan buah kelapa, sepatu karet saja bisa digigit gigit sama tikus. Nah kan rakus bukan?

Shio Monyet
Ngemeng ngemeng soal Monyet, apakah anda lahir di taun Monyet? Hahaha. Terus terang saya kurang tau untuk urusan ginian. Mungkin para pembaca jauh lebih tau soal permonyetan, ya jangan ragu untuk menginformasikan ke sayah. Saya senang belajar hal hal yang baru yang tentunya bernilai positif. Menurut referensi yang pernah saya baca, Shio monyet atau shio kera adalah shio yang terkenal mempunyai kecerdikan dan kenakalan luar biasa.

Sifat penasaran dan keingintahuannya memang sangat tinggi sehingga mendukung kelebihannya sebagai shio yang paling cerdas. Mereka juga bersahabat, humoris dan sangat menyukai lelucon - dari hanya melihat, membaca atau sampai melakukannya sendiri.

Sifat shio monyet yang terlalu menyukai humor dan nakal juga membawa pandangan bahwa ia kurang bisa menghormati orang lain. Shio monyet juga terkenal sebagai shio yang sulit untuk merasa puas dan cukup egois, ia selalu tidak pernah puas terhadap apa yang telah dimilikinya dan selalu ingin mengejar hal baru demi kesenangan dirinya. Sayangnya, walaupun ia sangat cerdas, tetapi kreativitas dan nalurinya tidaklah setajam otaknya.

Dalam hal percintaan, monyet yang pintar selalu dapat mencari jalan untuk merayu, membujuk dan memanipulasi apapun demi meraih cintanya. Tetapi ketika ia sudah menentukan pasangan hidupnya, biasanya itu menjadi cinta abadinya. Kepintaran monyet juga membuatnya tidak sulit untuk meraih hal materi. Sifat humorisnya yang memang selalu ada dalam dirinya juga bisa membuatnya disukai dan mengurangi jumlah musuhnya.

Jika shio monyet bisa lebih dewasa dan mau memperhatikan kepentingan orang lain, maka hidupnya akan lebih bahagia. Beberapa tokoh terkenal konon memiliki shio Monyet ini diantaranya Amien Rais, Leonardo Da Vinci , Georce Lucas dan Tom Hanks. Nah saya cukup dahulu soal shio menshio Monyet ini.

Karakter Monyet
Seorang Blogger bernama Mang Adjid yang pernah saya tulisannya pernah baca di internet, pernah menulis tentang sifat Monyet yang juga melekat pada manusia. Mang Adjid membeberkan beberapa sifat sifat monyet yang bisa dijadikan gambaran dan pelajaran dalam kehidupan ini, yaitu :

  1. Monyet berwatak semau gue dan berlagak pilon
    Seekor monyet jika sudah mendapatkan makanan di tangannya, ia tak peduli lagi pada monyet-monyet lain di sekitarnya.Ini adalah gambaran bagi orang atau pejabat yang tidak memperdulikan suara rakyat yang dulu mendukungnya untuk mencapai kursi kekuasaan.Ibarat pepatah, “lupa kacang pada kulitnya”, yang bisa diartikan : “karena sudah dapat kekuasaan, lupa pejabat akan rakyatnya”.

  2. Monyet Tidak Bisa Diam
    Seekor monyet tangan dan kakinya akan senantiasa bergerak walau sekedar menggaruk-garuk kepala. Ini adalah gambaran bagi orang atau pejabat yang suka usil, ia tak lebih dari biang kerok yang pandai memancing keributan dan menambah permasalahan baru, bicara ceplas-ceplos tak tentu arah. Pendapatnya mencla-mencle tak bisa dijadikan pegangan.

  3. Monyet Pandai Berakting
    Jika monyet berakting di sirkus semua anak kecil senang, artinya monyet hanya pantas dijadikan penghibur bagi anak-anak kecil. Ini adalah gambaran bagi orang atau pejabat yang tidak memiliki gambaran riil. Ia naik ke kursi kekuasanaan bukan karena kemampuannya, tapi karena popularitas dan pendukung butanya.

  4. Monyet Sangat Rakus
    Seekor monyet, ketika ada kesempatan mengambil makanan, segera ia penuhi tangan kanan dan kirinya, bahkan kedua kakinya. Ini gambaran bagi orang atau pejabat yang menggunakan aji mumpung. Tak ada lagi rasa malu dan risih mengeduk harta rakyat untuk dibagikan kepada keluarga dan kroni-kroninya. Semoga sifat-sifat monyet di atas tidak bercokol pada diri kita .

Pesan Moral Dari Monyet
Saya jadi ingat tulisan seorang blogger yang menamakan dirinya dengan sandi Cahaya Imani yang menuliskan secara apik pesan moral dari monyet ini. Saya sudah membaca tulisannya yang menggugah dan amat inspirasional itu. Teman, dia menuliskan secara singkat namun gamblang mengenai penggambaran pesan moral dari sang monyet untuk bisa kita tarik hikmahnya dalam kehidupan sehari hari.

Dia menulis contoh bagaimana berburu monyet di hutan-hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika katanya dalam tulisannya.

Cara menangkapnya sederhana saja. Menurutnya, Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa ? Tentu kita sudah tahu jawabnya. Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !

Teman, kita mungkin akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita sering mengenggam erat-erat setiap pikiran yang mengganjal hati kita layaknya monyet menggenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya.

Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap penyakit pikiran dan hati yang akut.

Teman, sebenarya monyet-monyet itu bisa bebas dan selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Dan, kita pun akan terbebas dari pikiran yang mengganjal dan penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepaskan semua pikiran yang mengganjal dan “rasa tidak enak” terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum…. Jadi, kenapa kita tetap menggenggam pikiran yang mengganjal dan juga perasan tidak enak itu ? katanya menutup tulisannya.

Nah apa yang bisa kita petik dan hikmah yang bisa kita ambil dari sifat monyet ini?. Tentu hal yang baik dan positif dari Monyet lah yang bisa kita ambil dalam kehidupan kita , para manusia, dalam kehidupan sehari hari. Haruskah kita malu belajar dari Monyet?. Mengapa pula kita harus "berguru" kepada Monyet?. Tentu saja tidak seperti itu. Seperti yang sudah saya sebut di atas bahwa sifat Monyet yang juga melekat pada manusia. dan beberapa sifat sifat dari monyet itu menjadi gambaran dan pelajaran dalam kehidupan ini.

Apakah anda mau seperti Monyet?

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog