Jual Milagros disini
Loading...

Mengapa Kita Miskin?

Tag : - Asep Haryono | Mengapa Kita Miskin? - Powered by Blogger
Siapa yang miskin? Kalau pertanyaan sederhana ini ditanyakan kepada saya pada hari ini tentu akan saya jawab dengan amat cepat secepat kereta api super cepat "Nda mau miskin". Nah saya kira anda pun pasti juga tidak akan mau miskin, menjadi miskin, dimiskinkan atau bahkan bermimpi untuk menjadi miskin.

Tetapi tunggu dulu, miskin yang bagaimana yang saya maksudkan dalam tulisan kali ini? Miskin dalam artian fisik , atau miskin moral?. Yah tentu saja miskin dalam artian kepemilikan harta banda. Ini definisi yang amat sederhana dan mudah ditebak oleh siapa saja.

Yuk coba sejenak kita lihat pengertian kemiskinan itu sendiri. Dalam wikipedia Indonesia disebutkan pengertian kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Semua orang bebas berbicara mengenai perang melawan terorisme yang kini sedang marak yang diproklamirkan oleh setan besar Amerika Serikat dan negara negara sekutunya. Saat presiden Obama mengumumkan berhasil menewaskan pemimpin Al Qaeda, Osamah Bin Laden, presiden yang pernah mengenyam sekolah di Indonesia itu secara tegas mengatakan bahwa perang terhadap Terorisme dan bukan terhadap Islam. Obama berkilah bahwa Osamah Bin Laden bukan pemimpin Muslim, dan dia (Osama) membunuh banyak warga sipil, wanita dan anak anak muslim di seluruh dunia. Kita semua larut dalam eporia perang terhadap terorisme , tapi lupa akan perang yang lebih dahsyat lagi ; perang melawan kemiskinan.

Kemiskinan Memicu Kejahatan
Sudah bukan rahasia lagi kalau salah satu faktor maraknya berbagai aksi kejahatan pencurian di kota Pontianak beberapa pekan terakhir ini adalah karena kemiskinan. Orang yang sudah tidak punya uang sepeserpun untuk membeli sebungkus nasi untuk menutup rasa lapar yang perih diperutnya bisa membuat orang habis akal sehat dan berbuat nekad apa saja yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang.

Kemiskinan tidak dapat disembuhkan hanya dengan ceramah agama mengenai kesabaran akan hidup dan juga doktrin doktrin jeneral yang mengatasnamakan kemandirian. Dalam pemikiran banyak orang, untuk berusaha mandiri sudah dipastikan modal. Dan jika modal tidak ada apa yang harus diperbuat untuk memulai usaha?. Meminjam uang dari bank tidak memiliki jaminan (anggunan), untuk meminjam dari tetangga pun kadang tidak mendapat hasil.

Yang lebih miris lagi adalah fenomena meminjam uang untuk makan sehari hari. Okelah pada hari itu mereka bisa makan dengan uang hasil pinjaman, bagaimana dengan kehidupan selanjutnya setelah uang hasil pinjamannya itu habis tak bersisa. Pilihan memang selalu ada disaat orang mengatakan bahwa pilihan meminjam sudah tidak tersedia lagi. Gali lobang tutup lobang. Meminjam ke sini untuk menutup yang itu, dan meminjam ke sana untuk menutup yang ini. Roda kehidupan terasa monoton.

Jangankan anda, bahkan saya sendiri sudah sering melakoni "gali lobang tutup lobang ini". Meminjam dana dari pihak lain untuk menutup hutang yang lain. Coba kita kembali kepada diskusi di atas bahwa kemiskinan memang amat berpotensi memicu munculnya aksi kejahatan. Sudah banyak bukti di lapangan yang tidak bisa dinafikan begitu saja. Kemiskinan berpotensi memicu tindak kejahatan. Dalam wikipedia disebutkan salah satu kemiskinan yang umum terjadi di masyarakat kita adalah kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan.

Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar. Namun yang lebih prinsip adalah kemiskinan akan pangan. Orang perlu makan. Tidak ada uang karena miskin, dan dia harus makan bisa membuat orang gelap mata dan nekad berbuat kejahatan seperti mencuri. Ya mencuri untuk makan. Dalam tulisan sebelumnya sudah saya coba bahas mengapa orang mencuri bisa diliat dari postingan saya sebelumnya di sini. Saya menyebut bahwa ada dua faktor yang menyebabkan orang berbuat jahat seperti mencuri ini yakni faktor niat dan kesempatan. Jika memang sudah ada niat, maka kesempatan bisa diciptakan. Jadi niatlah yang memegang peranan penting mengapa seseorang bisa saja (nekad) melakukan pencurian.

Kemiskinan Selalu Abadi
Bukan perkara mudah untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Bahkan diberbagai desa di seluruh Indonesia sekalipun kemiskinan akan selalu menjadi ciri dan warna masyarakat Indonesia yang sampai sekarang masih belum juga lepas landas dalam artian sederhana, rakyat mudah mendapat sembako murah , pendidikan yang baik dan lapangan pekerjaan tersedia dalam jumlah yang "memadai".

Saya harus ekstra hati hati memakai sebutan "memadai" di sini karena ukuran yang saya pakai tentu akan berbeda dengan ukuran para pembaca tulisan saya hari ini. Saya bukan ahli ekonomi, saya hanya menulis berdasarkan feeling saja dan juga saya sebagai pelaku. Kok pelaku? Ya karena saya termasuk orang yang berada dibawah garis kemiskinan. Saya bingung garis yang kaya apa ya. Garis lurus, melengkung, mendatar atau garis terputus putus?. Disebut orang miskin karena ada orang yang tidak miskin. Saya tidak bilang orang kaya.

Mengapa tidak pernah disebut si A atau Si B hidupnya sekarang berada di bawah garis kekayaan. Nah loh? Pernah dengarkah statemen yang terakhir tadi?. Apakah garis kemiskinan dengan garis kekayaan itu letaknya paralel atau sejajar. Jika garis kemiskinan letaknya di bawah, sedangkan garis kekayaan letaknya di atas, maka ditengah tengah kedua garis itu disebut apa donk? Garis abu abu kali ya. Lalu bagaimana dengan sebutan orang yang hidupnya cukup? Cukup mobilnya, cukup deposito di banknya, cukup rumahnya? Dikotomi orang yang mampu dan tidak mampu juga semakin absurd dan tipis dan hampir sulit dibedakan. Orang tidak mampu katanya. Tidak mampu apanya? Saya jelas orang yang tidak mampu. Tidak mampu beli Mobil Mercy ala Pak Dirut PLN Mr Dahlan Iskan. Nah gimana tuh?

Ngomongin soal tidak mampu, saya jadi teringat teman kuliah saya dulu di era 90 an. Sebut saja namanya si Bejo. Nah tetangga saya si Bejo ini sangat pintar dan sudah pengen mendapatkan beasiswa di kampus. Si Bejo ini sama sama dengan saya di Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FPBS) Bahasa Inggris di UNTAN saat itu. Si Bejo pun melengkapi syarat dan berkas administrasi untuk diajukan kepada bagian akademik fakultas untuk proses seleksi penerimaan beasiswa.

Si Bejo pun membuat surat keterangan tidak mampu yang ditanda tangai oleh lurah atau kepala desa tempat si Bejo dilahirkan. Bolak balik si Bejo mengurus surat keterangan tidak mampu, dan akhirnya surat itu pun berhasil diperolehnya. Buru buru si Bejo melampirkannya dalam map biru ke bagian fakultas.

Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, akhirnya nama nama yang lulus seleksi menerima beasiswa diumumkan di fakultas 2 bulan kemudian. Nama si Bejo tidak ada dalam daftar yang lulus. Seperti SBY, saya hanya bisa prihatin melihat nasib kawan saya yang kocak ini. Si Bejo pun akhirnya bisa menerima kalau dia yang memang saya tau berasal dari keluarga miskin (GaKin-red) dan sejujurnya miskin bahkan ada sertifikat miskin (baca : surat keterangan tidak mampu) juga masih belum dipercaya.

Soal otak jangan tanya. Si Bejo ini pintar, dan selalu mendapat nilai A di tiap mata kuliahnya. Lantas muncul pertanyaan saya : Apa sebenarnya yang menjadi kriteria penerima beasiswa itu sebenarnya?. Syarat miskin? Wah banyak orang yang mengaku "miskin". Bahkan teman si BEjo yang anak orang kaya itu ternyata lulus sebagai penerima beasiswa dan punya sertifikat miskin dari kelurahan. Loh kok jadi gene seh?

Itu hanyalah contoh saja betapa kemiskinan sekarang pun bisa dijadikan bisnis. Nah nah kemiskinan memang bisa dijual untuk mendapatkan keuntungan. Kemiskinan yang bertipe seperti ini dalam Wikipedia termasuk kedalam kelompok kemiskinan akan kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk di dalamnya adalah kemiskinan dalam bidang pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.

Saya jadi ingat saya saya mengenyam pendidikan SD di Jakarta Utara era tahun 1976 kalaw tidak salah. Saya masih ingat namanya sekolag Sekolah Dasar Negeri 01 Penjaringan Jakarta Utara. Satu kelas dipake dua gelombang. Dari jam 7 pagi sampei jam 12 siang, dan dilanjutkan dari jam 1 siang hingga jam 5 sore. Bayangkan jumlah murid sebanyak itu dalam satu kelas yang dipake bergiliran oleh dua "kloter" anak anak murid.

Betapa nelangsanya SD saya itu karena memang kekuranga gedung buat belajar. Makanya saya sangat tidak setuju kalaw anggota Dewan kita yang terhormat di DPR/MPR sampai "ngotot" mau bikin gedung baru bak Hotel yang hanya 1 trilyun lebih itu. Alangkah bahagianya saya jika dana sebesar itu dialihkan untuk membangun atau memperbaiki gedung sekolah SD-PTN di Indonesia, tentu jumlahnya bisa mencapai ribuan.

Belum lagi dengan pengadaan buku buku di sekolah. Biaya untuk beli buku cukup tinggi, yaitu per semester atau caturwulan bisa mencapai Rp 200 ribu lebih. Setahun paling tidak Rp 400 ribu hanya untuk beli buku. Jika punya 3 anak, berarti harus mengeluarkan uang Rp 1,2 juta per tahun. Hanya untuk uang buku orang tua harus mengeluarkan 130% lebih dari Upah Minimum Regional (UMR) para buruh yang hanya sekitar 900 ribuan.

Oleh karena saya sangat mendukung sekali ada perusahaan media terbesar di Kalimantan Barat yang bernama Potnianak Post meluncurkan program Gemar Membaca dan Hibah sejuta buku sekolah. Ini sangat penting untuk memasyarakatkan membaca bagi anak anak kita, dan tersedianya buku buku yang baik dan bermanfaat tersedia gratis bagi seluruh anak anak sekolah di Kalimantan Barat ini. Tanpa pendidikan, sulit bagi rakyat Indonesia untuk mengurangi kemiskinan dan menjadi bangsa yang maju.

Kemiskinan di Indonesia akan selalu abadi sepanjang masa.


1 comment:

  1. Apalagi kalau kita ngitung standar miskinnya pakai standar Islam bang tentang kewajiban zakat, wah hampir 100% bisa dikatakan bahwa rakyat Indonesia tidak wajib zakat yang dalam arti sesungguhnya kita berada dalam garis kemiskinan...

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog