Jual Milagros disini
Loading...

Hidup Kita Cuma Sekali

Dalam keseharian kita hidup bermasyarakat tidak akan terlepas dari interaksi kita dengan masyarakat lainnya. Adalah hal yang wajar kalaw kita hidup berdampingan dengan masyarakat yang plural dan majemuk. Ini yang harus kita hormati karena masyarakat yang melakukan penilaian terhadap sikap dan tingkah laku sehari hari kita.

Jangan salahkan masyarakat yang memberikan penilaian buruk terhadap diri kita walaupun kita merasa diri kita sudah benar atau merasa benar. Benarnya kita saja bisa disalahkan masyarakat karena masyarakat tidak akan mau tau siapa anda sebenarnya. Kenyataan memang tidak seindah dengan harapan. Oleh karena itu apapun keinginan masyarakat sebaiknya kita mengerti karena mereka tidak akan pernah mengerti.

Sebenarnya dalam tulisan saya sebelumnya sudah saya paparkan secara gamblang mengapa kita berbeda antara satu dengan lainnya. Kita memang berbeda. Walau berbeda tetapi tetap satu atau satu tetapi (sesungguhnya) kita berbeda. Hidup bermasyarakat memang ada seninya tersendiri. Kadang kemauan masyarakat berbeda dengan kemampuan daripada individunya sendiri. Seperti yang saya sebut diawal tulisan saya hari ini, bahwa benarnya saja kita saja masih bisa disalahkan oleh orang.

Sebagai contoh sederhana saja jika anda berjalan dengan orang lain yang kebetulan saja berlainan jenis. Apa komentar orang atau masyarakat terhadap kita?. Tentu dugaan orang akan berbeda beda antara satu dengan yang lainnya. Padahal kita berjalan adik kandung kita sendiri yang kebetulan saja perempuan. Nah apa kata orang atau apa kata masyarakat yang tidak tau kalaw wanita yang kita bawa itu adalah adik kandung kita sendiri? No no masyarakat tidak akan mau tau. Yang tau adalah anda berjalan dengan wanita lain jenis. Masyarakat tidak akan mengerti sampai anda sendiri memberikan penjelasan kepada mereka. Nah untuk urusan simple gini aja sudah jelas bukan. Betapa sensitifnya penilaian masyarakat.

Setiap orang memiliki keunikan tersendiri yang memastikannya berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Dalam keseharian kita tentu tidak akan lepas yang namanya hubungan antar pribadi atau interpersonal relationship. Hubungan emosional antar manusia ini tidak selalu berkaitan dengan urusan asrama eh asmara tentunya.

Walaupun sebagian orang masih menganggap hubungan emosional antara dua manusia sangat terkait erat dengan kualitas hubungan tersebut. Kita tidak mungkin bisa menyenangkan banyak orang secara bersamaan, dan adalah hal yang wajar jika ada orang yang tidak menyukai kita. Ini menyangkut perasaan orang terhadap kita. Kita tidak mungkin melarang orang menyukai diri kita sebagaimana orang pun tidak bisa melarang kita menyukai orang lain. Natural bukan?

Hidup Ini Cuma Sekali
Hidup ini sebenarnya sangat Indah. Dengan hadirnya sahabat, teman, dan kawan akan mewarnai perjalanan hidup kita yang hanya satu periode ini. di alam fana ini . Apalagi dengan segudang aktifitas dan kegiatan keseharian kita yang konon tiada habis habisnya itu akan terasa singkat jika kita bisa mengisinya dengan penuh rasa cinta dan semangat.

Ya semangat, hanya dengan semangat itulah kita bisa merasakan arti hidup yang sesungguhnya bukan sekedar hidup diatas tumpukan daging yang bernama manusia ini. Seperti pada tulisan saya sebelumnya bahwa arti kehidupan (passion) dan tujuan kita hidup (purpose) akan benar benar menjadi sinergi menjadi energi yang luar biasa yang bisa membuat hidup anda menyala nyala, berbinar, bersinar dan terus bersemangat menggelola.

Hadirnya teman lama dan sahabat akan menambah semangat hidup kita di dunia ini dan menyadari bahwa masih ada orang yang ingat kepada kita. Semua ini seolah mengingatkan kita bahwa hidup kita masih berarti bagi kehidupan orang lain. Adanya salam dari sahabat adalah bukti bahwa keberadaan kita masih dihargai oleh orang lain. Berbahagialah jika anda memiliki sahabat. Sahabat adalah harta yang tidak akan pernah habis, dan merupakan harta yang tidak ternilai dalam hidup kita.

Hidup kita cuma satu periode. Ya hidup kita cuma satu kali. Kita lahir ke dunia sebagai sebagai bayi yang mungil lalu menjadi besar dan akhirnya mandiri dan kemudian akan kembali menghadap sang pencipta Allah SWT. Sesungguhnya kita semua ini milik Allah dan kepada Allah jugalah kita semua pasti akan kembali. Hanya dengan perbedaan yang kita miliki inilah yang kita harapkan menjadi perekat bagi kita semua untuk sama sama mulai merapatkan barisan untuk menuju cita cita kita masing masing.

Mari kita sudahi saja perang dingin antara kita, dan mulai dengan babak baru dengan suasana yang lebih mencair dalam bingkai persamaan dan saling menghargai kekurangan masing masing. Kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Keunikan yang ada dalam diri kita masing masing akan terasa semakin indah dengan hadirnya rasa persahabatan yang tulus dan ikhlas di hati sanubari kita masing masing.

Marilah kita bertanya dalam diri kita masing masing ; sudah siapkah kita menerima kekurangan dan kelebihan orang lain?.

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog