Jual Milagros disini
Loading...

Belajar Dari Musibah

Dalam catatan saya selama kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2011 ini serentetan musibah datang bergantian menghampiri kehidupan saya sekeluarga. Musibah seolah enggan beranjak dari lembaran kehidupan saya.

Berbagai kejadian dan peristiwa selama kurun waktu itu seolah mengingatkan kami akan banyak hal. Apakah semua itu merupakan cobaan dari Allah SWT? Apakah semua itu merupakan syarat untuk memperoleh kemudahan?.

Mengapa harus saya sekeluarga yang harus menanggung musibah beruntun itu? Sebagian orang memberikan dukungan moril agar saya tabah menghadapi (musibah) ini. Sebagian lagi menyarankan agar banyak bersedekah. Sebagian lagi juga mengisyaratkan agar saya lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah. Namun yang lebih menarik perhatian saya adalah saran kepada kami agar menarik hikmah dari semua ini. Lantas apa hikmah yang dapat saya petik dari rentetan musibah yang saya alami saat ini?

Datang Silih Berganti
Bukan maksud untuk "memamerkan" catatan musibah yang mendera saya sekeluarga. Dan juga bukan maksud "bangga" dengan "meriah" nya musibah yang datang beruntut menghampiri saya sekeluarga. Bukan, bukan karena itu. Namun ada beberapa catatan yang berhasil saya rangkum dalam beberapa bulan terakhir ini yang menimpa saya sekeluarga

Musibah pertama datang di akhir Nopember 2010 yang lalu. Saat kami membeli secara tunasi (cash) tanah seluas 11x17 seharga Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) melalui staf marketing di komplek Duta Bandara tempat kami mengontrak rumah sekarang. Saya dan beberapa kepala keluarga di komplek yang sama pun juga membeli tanah dengan ukuran dan harga yang bervariasi. Ada yang sudah membayar belasan juta, hingga ada yang membayar secara tunai (cash) seperti saya sekeluarga.

Dijanjikan sertifikat akan selesai dan keluar sekitar 4 (empat) bulan dari tanggal transaksi. Begitu percaya warga komplek kepada staf tersebut sampai fotokopi sertifikat saja tidak kami tanyai. Namun untung tak dapat diraih, dan malang tida dapat ditolak, staf marketing tersebut menggelapkan uang para warga yang sudah menyetor (uang) kepadanya. Sertifikat belum jadi, tapi uangnya sudah dilarikan oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut. Sampai sekarang belum juga selesai, dan uang yang sudah kami setorkan tunai tersebut dinyataka hilang tidak berbekas.

Musibah kedua datang menyusul. Raibnya sebuah telepon genggam merek Nokia 1661 yang saya taruh di ruang tamu hilang sekembalinya saya dari Sholat Magrib pada tanggal 4 April 2011 tepatnya hari Sabtu. Dari investigasi yang saya lakukan saat itu hingga menanyakan kepada orang rumah yang saat kejadian berlangsung, tidak membuahkan hasil informasi yang memadai. Sang maling dalam beraksi menyambar HP saya di ruang tamu juga tidak terdengar. Nyaris tak ada suaranya. Rumah kontrakan yang selalu saya kawal dengan ketat ini akhirnya benar benar "kecolongan" juga. Urutan kronologis peristiwanya juga sudah saya publikasikan dalam blog pribadi saya.

Seperti tidak ada habisnya, musibah berikutnya datang lagi. Belum lama dari kejadian pencurian yang pertama, kira kira 1 (satu) bulan kemudian kejadian pencurian terjadi kembali. Kali ini jauh lebih "keren" dari yang pertama. Sepertinya sang maling tau mana barang yang mahal yang dia ambil. Setelah diperiksa secara seksama barang yang berhasil dibawa sang maling adalah Laptop Merek Axioo, HP merek K-Touch H887 lengkap dengan memori card dan kartu perdana milik istri, Cincin emas seberat 3 gram , dan uang tunai sekitar Rp.210.000,- (Dua Ratus Sepuluh Ribu Rupiah). Urutan lengkap atau kronologis kejadian ini juga sudah dipublikasikan dalam jejaring social facebook dan juga blog pribadi.

Kita Belajar Dari Musibah
Apa yang sebenarnya bisa saya pelajari dari rangkaian musibah yang datang beruntun silih berganti yang saya alami ini?. Sata kata kunci utama "Belajar". Ya benar, saya harus belajar dari musibah. Banyak orang berpendapat bahwa yang namanya belajar hanya untuk mereka yang sudah berpengalaman dimana kita bisa memetik pelajaran darinya,. Pendapat itu benar, Belajar dari pengalaman orang lain yang sudah merasakan asam garam kehidupan juga benar. Lalu bisakah kita belajar dari musibah yang kita alami?

Belajar dari kesalahan yang telah banyak saya perbuat untuk selanjutnya jangan sampai terulang lagi. Namun belajar dari musibah adalah hal yang lain. Selaku umat Islam yang wajib meyakini kasih sayang Allah sentiasa melindungi kehidupan kita. Kalimah “Bismillahir Rahman nir Rahim” – dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang – sentiasa menjadi sebutan kita. Namun ketika musibah seperti kematian, kesakitan, kemiskinan, kegagalan dan kehilangan harta benda melanda diri, mungkin hati kecil kita tertanya-tanya, mengapa? Mengapa Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang itu mentakdirkan begitu? S udah sirnakah kasih-sayangNya kepada kita semua hambaNYA?

Untuk mencari hikmah sesuatu musibah kita mesti meyakini terlebih dahulu bahwa musibah adalah sebahagian ujian yang pasti menimpa manusia. Ujian adalah satu sunnatullah (peraturan Allah) yang tidak ada siapa pun dapat menghindarkannya karena hidup ini hakikatnya adalah satu ujian. Bila sanggup hidup, mesti sanggup diuji. Seperti dalam firman Allah s.w.t.: Dijadikan mati dan hidup kepada kamu untuk menguji siapakah yang terbaik amalannya.” (Surah al-Mulk: 3)

Apa itu musibah? Secara ringkasnya musibah didefinisikan sebagai segala sesuatu yang tidak disukai oleh manusia berupa kematian, kesakitan, kemiskinan, ketakutan, kegagalan, kesedihan, kehilangan harta benda dan lain-lain. Jadi, Allah pasti menguji kita dengan sesuatu yang tidak kita sukai (musibah). Kita tidak suka akan kematian, tetapi siapa yang boleh mengelak daripada mati? Dalam Al Quran sudah jelas disyaratkan bahwa setiap mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Kita benci kesakitan, tetapi itulah adalah lumrah hidup. Lalu hati kita bertanya lagi, mengapa Allah datangkan semua itu? Apa perlunya musibah?

Saya bukan ahli agama. Namun perasaan saya mengatakan kalaw apa yang saya alami ini harus diambil hikmah dan pelajaran yang berharga buat saya setidaknya hal hal yang seperti ini tidak perlu terjadi kembali atau terjadi kepada orang lain. Seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak, artinya saya harus intropeksi diri mengapa rangkaian musibah itu datang silih berganti. Bukankah hal hal kejadian beruntun di atas murni karena kelalaian, kealpaan, ketidak tauan saya sendiri? Nah ini salah satu hal utama yang harus (mau tidak mau) diakui karena semua kelalaian diri saya sendiri.

Nah dari firman ALLAH SWT itulah seperti menampar pipi saya amat keras. Mungkin manusia sekarang ini mengidentifikasi "musibah" sebagai segala hal dahsyat, yang terjadi "di luar" kehendak manusia. Pada saat terjadinya "musibah" itu, manusia baru merasakan keprihatinan yang mendalam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kebanyakan menyerahkan kepada Yang Maha Tunggal. Sayangnya, "penyerahan" kepada Sang Kuasa tersebut lebih bernuansa Su' udz-Dzan atau Negative Thinking kepada-Nya. Mengapa bisa terjadi demikian?. Penyesalan memang datangnya selalu terlambat. Jarang saya dengar orang menyesal lebih dahulu.

Sejatinya, makna "musibah" tidaklah sesederhana dari yang selama ini kita pahami. Kalau kita mau menyisakan perhatian kita maka kita akan tahu bahwa ada sebagian umat yang merasa bahwa pemberian penghargaan, kenaikan jabatan, bagi mereka, itu pun sebuah "musibah". Sudah tentu, hal tersebut "musibah" bagi yang bersangkutan. Biasanya, orang yang berpedoman demikian akan semakin tunduk kepada Allah Swt ketika mendapatkan penghargaan. Bahkan kalaw melihat dari sejarah musibah memang sudah di-"uji-coba"-kan kepada para nabi nabi sebelum kita sekarang. Musibah berupa ujian tersebut tentunya bukan saja berupa fisik, melainkan mental dan keimanan.

Hikmah Dari Semua
Akhirnya, manusia sekarang ini pun telah lebih jauh menyederhanakan makna "musibah". Manusia tidak lagi berpengertian bahwa, sebenarnya, musibah tidak sesederhana "segala bencana yang di luar kehendak manusia". Akibatnya, sepertinya ada dua pilihan bagi kita : menerima sepenuhnya sebagai sebuah kecelakaan alam murni, atau mengkaitkannya dengan kehendak Sang Kuasa.
Lalu mana yang akan anda pilih?

Penulis melihat, ketika beberapa musibah menimpa kita bangsa Indonesia akhir-akhir ini, banyak banyaknya umat yang tidak lagi menjalankan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. Apakah benar demikian?. Realitas ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan mis-understanding. Bagaimana pun, yang utama untuk diyakini oleh umat adalah bahwa Allah Swt tidak akan pernah berkehendak buruk kepada hamba-hamba-Nya.

Pertama, tidak semua kejadian tersebut "pahit" dalam arti yang sesuai dengan pemahaman kita. Seluruh manusia adalah milik Allah Swt, maka Dia berhak mengambilnya sewaktu-waktu, dengan berbagai jalan, baik itu bencana alam, maupun musibah lainnya. Semua kejadian yang terjadi diluar kehendak kita sebagai manusia merupakan bentuk "pemanggilan" Allah Swt terhadap kita dalam ukuran yang berbeda beda tingkatannya. Inilah benang merah yang harus kita pahami dari berbagai macam bentuk musibah yang melanda kita, dan seluruh bangsa Indonesia seperti sekarang ini.

Walaupun segala musibah itu terhadi karena kelalain dan kealpaan yang kita lakukan karena alasan yang masih bisa dibuktikan secara ilmiah. Misalnya anda lupa mengunci pintu rumah, dan wajar kalaw sang maling masuk dengan leluasa menjarah harta benda anda. Bukankah itu suatu bentuk kelalaian anda karena hasil perbuatan anda sendiri?.

Terlepas musibah itu memang rencana Allah SWT untuk menguji hambaNYA, sebaiknya kita harus waspada dan intropeksi diri sendiri sebelum "pasrah" kepadaNYA. Ucapan ini memang terlihat sederhana, namun ia memiliki makna yang sangat mendalam, yakni mengingatkan kita semua untuk senantiasa tidak bersikap sombong dan selalu membanggakan diri. Hukum ini akan berlaku bagi siapa saja yang melanggarnya.

Semoga.......

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog