Jual Milagros disini
Loading...

Aku Tidak Akan Marah

Banyak hal yang terjadi di tahun 2011 yang sudah saya masuki hingga bulan ke 5 (lima) bulan Mei ini. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam lembaran hidup saya seolah mewarnai perjalanan hidup saya yang sudah memasuki usia yang sudah tidak muda ini. Harapan selalu menyertai rasa optimis saya yang membuncah seiring dengan rencana rencana yang sudah dibuat di tahun 2011 ini.

Godaan, tantangan, kendala dan hambatan beserta keluarga dan saudaranya tentu akan selalu mengiringi langkah saya dalam menapaki hidup dan kehidupan ini. Nasib baik ataukah nasib buruk yang sudah, sedang dan akan saya alami tidak akan pernah dapat saya ketahui makna hakiki yang ada didalamnya. Saya sebagai manusia hanya mengira ngira saja, karena segalanya hanya Allah SWT Yang Maha Tahu segalanya

Sebagai manusia perasaan senang, gembira, gelisah, sedih, dan juga perasaan takut adalah hal yang wajar. Bercampurnya semua perasaan itu adalah implementasi diri yang terus bereformasi membentuk ke arah yang seharusnya saya inginkan. Walaupun rencana yang sudah dibuat secara matang sekalipun tentu akan mengalami deviasi (penyimpangan) dari yang sudah direncanakan.

Rencana yang sudah disusun matang kadangpula tidak sesuai pada tahap eksekusi dilapangan karena berbagai sebab. Mulai dari kendala teknis hingga non teknis. Siapa yang bisa memastikan apa yang sudah kita rencanakan dengan matang kelak dilapangan akan sesuai dengan yang sudah direncakanan. Satu hal positif yang bisa kita petik bahwa segala sesuatu yang akan kita lakukan di masa depan memang sebaiknya direncanakan terlebih dahulu tentunya dengan resiko terukur.

Tema tulisan saya kali ini "aku tidak akan marah" lebih difokuskan pada perasaan yang membuncah terhadap apa yang sudah terjadi dalam lembaran hidup saya. Saya adalah manusia biasa yang bisa saja senang, gembira, sedih dan juga marah. Mengapa pula saya harus marah? Tentu marah yang cerdas, dan bukan offender yang berpotensi merugikan orang lain. Setiap orang bisa saja marah, dan itu adalah hal yang manusiawi ya karena kita adalah manusia. Siapa sih di dunia ini yang tidak pernah marah?. Hanya saja kadar dan tingkatan marah setiap orang bisa berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Saya tidak akan marah karena :

  • Belum Diangkat Organik
    Ini memang menyangkut pekerjaan saya di kantor. Banyak sudah teman teman seangkatan saya yang sudah diangkat statusnya menjadi karyawan tetap atau dalam terminologi kantor disebut dengan pegawai organik. Pada pengertian saya yang awam ini pegawai organik adalah pegawai yang sudah lengkap status kepegawaiannya yang dilindungi undang undang dan sudah dilengkapi dengan hak dan kewajiban yang jelas.

    Berbeda dengan status pegawai yang belum organik atau belum menyandang sebagai pegawai tetap yang hak dan kewajibannnya tidak jelas dan berpotensi mengalami masalah hukum kelak dikemudian hari. Saya tidak marah karena hal ini walaupun secara undang undang ketenagakerjaan saya sudah memenuhi syarat untuk diangkat sebagai pegawai tetap bahkan dengan UU Ketenagakerjaan yang sudah direvisi sekalipun.

    Saya sangat menyenangi pekerjaan saya walaupun tanpa harus menyandang sebagai pegawai organik. Bergelut dengan dunia IT dan Komputer adalah salah satu impian saya sejak dahulu sebelum bergabung dalam perusahaan ini. Memiliki banyak kesempatan untuk menimba ilmu dari rekan rekan yang sudah terlatih dan pakar di bidangnya adalah harta yang tidak ternilai untuk terus digali dan dikembangkan. Kesempatan itu selalu terbuka, dan akan dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas diri sedikit demi sedikit. Ini jauh lebih bermanfaat ketimbang ribut ribut mempermasalahkan mengenai status kepegawaian saya.

    Saya tidak marah, karena saya orangnya tidak mau ribut. Kalau memang belum rezeki, mau diapakan lagi?. Kadang kita selalu menangisi dan meratapi pintu yang sudah tertutup dan tidak menyadari kalaw ada pintu lain yang sudah terbuka. Istri pun sudah menyandang sebagai Pegawai Negeri secara penuh dan Insya Allah sudah memastikan masa depan keluarga kami akan jauh lebih baik.

    Sebagai keluarga baru , tidak ada perbedaan antara saya dan istri. Kita berdua adalah satu tim. Siapa diantara kita yang sukses lebih dahulu tidak akan menjadi masalah. S ebagai satu tim kita selalu mendukung satu sama lain. Tidak ada istilah uang istri, atau uang suami. Rezeki Istri atau Rezeki suami. Yang ada adalah uang kita, dan rezeki kita. Dari sinilah kita bisa tau bahwa kita masih beruntung. Masih banyak lagi saudara saudara kita yang nasibnya jauh dibawah kita.

  • Mengalami Banyak Musibah
    Berbagai musibah beruntun yang saya alami mulai dari kasus penggelapan uang tanah yang kami beli dari developer sebesar Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) yang lenyap entah kemana, hingga rumah kontrakan kami yang dijarah pencuri hingga dua kali dan menimbulkan kerugiaan jutaan rupiah sudah lama kami ikhlaskan.

    Belajar dari musibah yang datang beruntun ini , kami sekeluarga percaya karena semua ini hanya milik ALLAH SWT dan kita hanya meminjam saja. Kalau sang pemilik meminta kembali, apa yang dapat kita lakukan ? Biarlah itu terjadi karena memang sudah ditakdirkan begitu. Kita tidak akan lari dari suratan takdir kalau memang mengharuskan harta benda kami berpindah tangan dengan cara demikian.

    Dalam surat Al Quran sendiri disebutkan bahwa dibalik segala kesulitan tentu akan ada kemudahan. Musibah memang datangnya setiap saat, dan datangnya pun sewaktu waktu dan tidak pernah memberitahu. Musibah seperti kehilangan harta benda, ditinggal orang yang tercinta, kesulitan, kemiskinan dan berbagai musibah lainnya memang amat tidak disukai oleh manusia. Saya jadi bertanya : Siapakah yang mau ditimpa musibah? Saya yakin banyak jawabannya yang menjawab "tidak mau". Kalau anda menjawab "tidak mau" mendapat musibah, tentu saja saya juga tidak.

    Untuk mencari hikmah sesuatu musibah kita mesti meyakini terlebih dahulu bahwa musibah adalah sebahagian ujian yang pasti menimpa manusia. Ujian adalah satu sunnatullah (peraturan Allah) yang tidak ada siapa pun dapat menghindarkannya karena hidup ini hakikatnya adalah satu ujian. Bila sanggup hidup, mesti sanggup diuji. Seperti dalam firman Allah s.w.t.: Dijadikan mati dan hidup kepada kamu untuk menguji siapakah yang terbaik amalannya.” (Surah al-Mulk: 3)

Ini adalah contoh contoh dari hal hal yang terjadi dalam lembaran hidup saya yang Insya Allah tidak akan menyebabkan saya marah. Hidup bagaikan roda pedati yang terus berputar sesuai dengan kodrat yang diberikan kepadannya. Kalau sekarang kita berada di bawah, bisa jadi kelak akan tetap dibawah. Siapa bisa memastikan kalau saat ini kita berada di bawah, kelak besok akan menjadi di atas? Tidak ada yang bisa memastikan.

Begitu pula jika saat ini saya berada di atas, bisa jadi besok juga akan tetap di atas. Siapa yang bisa memastikan kalaw saat ini kita berada diatas kelak besok kita akan berada di bawah?. TUHAN tidak pernah merubah nasib hambaNYA jika sang hamba tersebut tidak mau merubah nasibnya. Inti dari semua ini adalah change atau perubahan. Semua orang harus berubah. Tentu berubah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

Saya tidak akan marah. Percayalah..

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog