Jual Milagros disini
Loading...

Aku Sudah Merasa Cukup

Mencari nafkah dengan halal adalah apa yang harus selalu kita lakukan setiap hari , dimanapun dan oleh siapapun. Mencari dan mengumpulkan harta sebanyak banyaknya dengan cara halal dan sah juga boleh boleh saja.

Seperti yang sudah saya tulis dalam posting saya kemarin bahwa harta sebenarnya bisa membuat kita bahagia jika harta itu sudah menjadi milik mereka yang berhak menerimanya. Sungguh berbahagia jika anda dipercaya Allah SWT menjadi "penyalur" rezeki bagi orang lain, dan Allah SWT mempunyai hak preogratif untuk memilih hambaNYA yang layak menjadi "penyalur" rezeki orang lain.

Dalam tulisan saya kemarin disebutkan bahwa harta memang bukan tujuan utama kita. Namun kita juga harus mengakui bahwa harta memang kita perlukan dalam hidup kita di dunia ini. Harta yang kita usahakan dan kita kejar setiap hari hanyalah sebagai media dan alat yang kita gunakan untuk mencapai cita cita dan sebagai media untuk beramal ibadah dan sodakoh buat sesama. Nah sekarang yang menjadi pertanyaan saya pada hari ini adalah "apakah anda merasaha (sudah) cukup dengan apa yang anda miliki sekarang ini?" Ukuran "cukup" memang amat nisbi dan bias, dan ukuran cukup bagi setiap orang akan berbeda antara satu orang dengan orang yang lain lengkap dengan parameternya.

Ukuran bahagia menurut usia juga amat bias. Seperti yang saya tulis pada tulisan kemarin yang mengutip sebuah riset diluar negeri, menyebutkan bahwa manusia berusia lanjut, dewasa, hingga remaja, terungkap bahwa merekalah yang merasa paling bahagia. Bukan mereka yang berusia lebih muda. Adapun puncak di mana manusia merasa paling bahagia dalam hidupnya adalah ketika mereka berusia 80 tahun. Temuan itu diungkapkan oleh Lewis Wolpert, seorang profesor asal University College London, Inggris. Hasilnya, Lewis menemukan, mereka yang berusia 30 tahun ke bawah memang merasakan bahagia. Hmmm begitu ya.

Cukup Yang Bagaimana
Menarik sekali fenomena yang ada di masyarakat sekarang ini kaitannya dengan kata "cukup". Ya sudah tentu parameter cukup memang beda pada setiap orang, Dari segi bahasa saja sudah mengandung makna yang berbeda, orang hidup cukup, dan orang hidup bercukupan tentu sudah sangat beda. Nah kata yang terakhir itu lebih identik pada orang yang hidup diatas garis kemiskinan. Saya tidak mengatakan secara kualitatif karena dalam pengertian saya yang awam ini kata "kaya" tidak selalu mempunyai arti denotatif yang merujuk kepada harta kepunyaan seseorang (belongings-red). Orang itu kaya wawasannya. Nah kan. Jadi kata "kaya" tidak selalu merujuk pada harta benda kepunyaan. Duile udah kaya ahli bahasaa aja.

Ada keluarga yang bisa makan 3 (tiga) kali sehari aja sudah sangat merasa cukup atau berkecukupan menurut ukuran keluarga itu. Sebaliknya secara ekstrim, ada orang sudah jadi bos suatu perusahaan tapi masih kurang jabatan, dan tamak ingin menjadi bos bos anak anak perusahaan yang lain. Apa pun alasan pembenarannya, tetap saja alasan mencari dan memperkaya diri menjadi biang kerok motivasinya. Harta memang tidak akan pernah cukup bagi orang yang tamak harta. Bagaikan meminum air laut yang asin. Semakin diminum bukannya dahaga hilang, malah akan semakin haus dan haus lagi. Hari ini sudah punya uang, keluarga bahagia, harta banyak sudah bergelar haji, tapi masih mau memperkaya diri lagi kalaw bisa harta dunia ini dikeruk dan masuk ke kantongnya. Luar biasa (gila) nya.

Bagi saya sendiri ukuran cukup dalam artian harta memang relatif. Namun demikian dengan hadirnya dua orang anak putra dan putri yang sudah sepasang melengkapi kebahagiaan kami sekeluarga. Apalagi ditambah dengan istri yang sudah menyandang sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah lebih dari cukup untuk jaminan masa depan yang cerah Insya Allah. Jadi saya sudah merasa cukup, dan saya sudah tidak punya urusan lagi dengan status pegawai kontrak yang sudah saya jalani lebih dari 7 tahun dikantor. Buat apa saya merengek rengek minta status saya dinaikan menjadi pegawai organik? Buat apa, sudah tidak ada gunanya lagi. Toh rezeki saya tidak hanya dari kantor ini. Jadi silahkan orang mau berbuat apa saja terhadap saya. Sudah tidak ambil pusing lagi :))

Dalam berbagai tulisan sering disebut orang bahwa kita selalu sedih dan meratapi pintu yang tertutup dan tidak menyadari ada pintu lain yang sudah terbuka. Kalaw memang rezeki saya memang sebagai pegawai kontrak seumur hidup saya akan terima dengan ikhlas, dan mungkin itu sudah rezeki saya di kantor. Entah karena rezeki saya cukup sampai di situ, atau memang kran rezeki saya dihentikan orang, sudah tidak menjadi beban pikiran saya lagi. Dan ternyata pintu rezeki saya mengalir dari pintu yang lain. Bukankah Allah SWT Maha Kaya dan Maha Adil? Rezeki Allah Maha Luas, dan Allah SWT Maha Tahu.

Namun jangan katakan saya takut. Saya tidak akan takut. Jangan katakan saya kalah. Tidak saya tidak kalah. Saya hanya fade away (mengalah-red). Mengalah untuk menang. Kalau bukan dicegah oleh istri tercinta dan meminta saya untuk bersabar, dan desakan teman teman agar saya menahan diri terhadap kantor, wah sudah dari dulu kantor ini sudah saya labrak. Saya berusaha tidak menganggu anda, tapi anda jangan coba mengganggu ketenangan saya. Itu saja pesan yang ingin saya sampaikan. Jadi saya sudah merasa cukup dengan apa yang saya rasakan dan saya miliki sekarang ini. Selain itu saya juga tidak mau berurusan dengan anda lagi. Saya tidak membenci anda. Saya hanya tidak suka kinerja anda.

Saya sudah merasa Cukup
Menurut saya ukuran bahagia juga tidak terlepas dari apa yang dia rasakan saat ini yang menurutnya bisa membuat bahagia. Dalam pandangan saya yang awam ini Bahagia setiap orang tergantung apa yang dirasakannya saat ini. Bahagia dalam pandangan saya adalah jika MIMPI yang dia idam idamkan selama ini mencapai tujuannya, atau harapan serta MIMPI selama ini yang didam idamkan bisa terwujud dengan baik.

Itulah ukuran Bahagia dalam pandangan saya. Nah kaitannya dengan Mimpi inilah, salah seorang rekan saya, blogger juga, teman saat Youth Engagement Summit 2009 di Kuala Lumpur, Refaldo Fanther sudah mengulas dengan lugas dan gamblang mengenai MIMPI MIMPI kita dalam hidup.

Sebagai penutup, Refaldo Fanther mengatakan bahwa mimpi adalah satu kata ajaib yang bisa membuat dampak yang besar dalam hidup kita. Mimpi adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hidup kita karena dari mimpilah kita bergerak dan terus berusaha untuk menggapai semua impian kita. Begitu pentingkah kita memiliki mimpi? begitu kata Fanther di blognya.

Menurutnya Mimpi adalah lampu penerang atas gelapnya jalan yang akan kita tuju di masa depan, dengan mimpi kita melihat dan dengan mimpi kita melihat masa depan. mimpi menjadi petunjuk bagi kita untuk mencapai apa yang kita inginkan di masa depan. Semakin tinggi kita bermimpi, maka sudah selayaknya semakin besar pencapaian yang akan kita dapat. Memiliki mimpi berarti menggenggam masa depan kita, masa depan yang kita harapkan untuk bisa diwujudkan.

Saya punya mimpi untuk bisa berbakti kepada orang tua, kepada Bangsa dan Negara, dan membahagian keluarga, dan menjamin masa depan anak anak saya. That are my dreams that I would like to achive.

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog