Jual Milagros disini
Loading...

Love Of MyLife- Part One


Dear Blog

Hari ini tanggal 11 Desember 2010 tepatnya 5 tahun yang lalu Asep Haryono dan Rudi Maryati melangsungkan pernikahan di sebuah Desa yang bernama Nanggulan Kulon Progo Jogjakarta. Hari ini juga kami berdua mendapatkan kado istimewa dari Allah SWT tepat persis di hari jadi Milad Pernikahan kami yang ke 5 (lima) tahun yang juga jatuh pada hari ini Sabtu, 11 Desember 2010. Pertama tama aku mengucapkan terima kasih kepada ALLAH SWT atas kepercayaanNYA yang diberikan kepada kami untuk yang kedua kalinya. Telah terlahir ke dunia, anak kami yang kedua, berjenis Perempuan, di Kulon Progo Jogjakarta 10 Desember 2010 pada jam 23.20 WIB dengan Berat Badan 3,5 Kilogram dan Tinggi Badan 52 Cm. Terima kasih juga kami ucapkan buat semua pesan yang masuk baik melalui pesang singkat SMS, telepon, email maupun pesan di wall/status facebook kami berdua. Semoga Kebaikan teman teman semua mendapat balasan yang lebih Indah dari Allah SWT. Amin Ya Robbal Alamin

Mungkin bisa dikatakan tulisan saya kali ini amat kental dengan mengandung unsur narsis tapi tidak apa apa ya, setidaknya tulisan ini berisi catatan saya pribadi terhadap Istri saya sebagai wanita pendamping hidup saya selama ini. Dalam rangka Milad Pernikahan kami yang ke 5 tahun yang jatuh pada hari ini 11 Desember 2010, saya Sejenak saya ingin sekali bernostalgia awal pertemuan kami berdua. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi dan bermanfaat buat kita semua.

Kilas Balik awal Pertemuan
Berawal dari postingan di website Kang Guru dan Pontianak Post tersebutlah sebuah nama user dengan ID rudymary yang sering membalas postingan saya di forum kedua website itu. Singkat cerita pada suatu ketika pada tahun sekitar 2003 kalaw tidak salah, si pemilik user name ini menuliskan pertanyaan (atau tanggapan) dalam website Pontianak Post. Sebenarnya saya sering menanggapi postingan pertanyaan dari siapa saja yang mengisi guest book website yang saya gawangi, Pontianak Post. Nah mungkin secara kebetulan tanggapan saya terhadap beberapa visitor website mendapat tanggapan balasan dalam bentuk e-mail ke alamat email pribadi saya yang memang amat mudah ditemui dalam website koran itu. Salah satu yang membalas tanggapan saya tersebut adalah ID rudymary tersebut, dan saya hanya menanggapi dengan standar ucapan terima kasih atas kunjungannya pada website perusahaan kami.

Ketemu Darat
Mungkin sudah diatur oleh ALLAH SWT barangkali ya, masih di tahun sekitar 2003 an, pada suatu ketika si pemilik user name Rudymary ini mengirim email kembali kepada saya dan mengatakan secara singkat profil dirinya bahwa ia bernama asli Rudi Maryati adalah seorang Mahasiswi IKIP PGRI semarang yang sedang menyiapkan judul skripsi. Dan si mahasiswi ini kebetulan akan menghadiri sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura di Pontianak. Dia datang dengan rekannya Setyowati yang juga berasal dari kampus yang sama. Dia mengabarkan. Ini artinya bisa ketemuan darat donk ya sama saya. Dia katakan dalam e-mailnya semoga bisa jumpa dengan saya di sela sela jam Istirahat di seminar FISIP Untan yang diselenggarakan di lantai III Gedung Rektorat Untan tersebut.

Hari itu setelah masuk jam istirahat siang, saya langsung berangkat dari Gedung Pontianak Post menuju rektorat Untan Lantai III yang sedang berlangsung seminar FISIP UNTAN itu. Saat itu sedang break makan siang. Saya menghampiri seorang panitia seminar dan langsung bertanya kepada panitia seminar itu, adakah yang bernama Rudi Maryati dari IKIP PGRI Semarang. Dan singkat kata akhirnya ketemu darat jugalah saya dengan pemilik username rudymary ini.

Saya pun berhasil melihatnya secara langsung. Sang Mahasiswi mengenakan jilbab dan biasa disebut akhwat. Tinggi badan sekitar 163 cm lebih tinggi beberapa cm dari tinggi saya yang "cuma" 158 cm ini.

Saya katakan hanya ucapan terima kasih sudah mengisi guestbook website kami, dan saya memberikannya sebuah koran edisi hari itu kepadanya sebagai ungkapan ucapan terima kasih. Menurut saya pertemuan itu singkat saja tidak lebih dari 1 jam. Kami pun saling bertukar alamat email dan Nomor Telepon.

Komunikasi Jarak Jauh
Pasca pertemuan darat itu tadi, komunikasi kami berdua hanya praktis tinggal Short Message Service (SMS), Telepon dan Surat menyurat saja antara Pontianak dengan Semarang. Kenapa Semarang? ya karena si Rudi Maryati ini masih berstatus sebagai Mahasiswi IKIP PGRI Semarang yang sedang menyusun Skripsi. Dari komunikasi jarak jauh inilah akhirnya saya tahu kalaw si mahasiswi ini adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara yang aseli orang Jogjakarta.

Si mahasiswi ini orang Jogja yang kebetulan mengambil kuliah di IKIP PGRI Semarang dan Jurusan yang dia ambil FPBS Bahasa Inggris . Ayah dan Ibunya hanyalah petani biasa yang tinggal di sekitar Kulon Progo Jogjakarta. Dari komunikasi surat menyurat juga tidak menyiratkan apa apa, dan semuanya berjalan datar saja layaknya seorang sahabat dengan rekan sahabat penanya yang berasal dari kota lain. Setiap surat yang dia kirim selalu dialamatkan ke rumah kos saya waktu itu di sekitar Jalan Sekadau Komplek Untan Pontianak.

Hingga pada suatu ketika setelah pulang kantor dan sesampainya saya di rumah kos (saat itu mungkin saya shift malam), saya mendapati sepucuk surat dari dia. Setelah membaca isi surat dia itu jantung saya berdegup kencang dan seolah tidak percaya. Apa sih isi suratnya?. Ya dalam suratnya itu dia mengatakan ingin berjuang bersama sama dan memberanikan diri untuk mengajak saya menikah. Ya sang Akhwat menawarkan dirinya untuk dinikahi. Sungguh suatu keberanian yang luar biasa. Dan ternyata sang Mahasiswi sudah berdiskusi dengan rekan rekan sesama akhwat di forum Kajian ke ISlaman kampusnya di IKIP PGRI Semarang. Dan salah seorang rekan Akhwat sang Mahasiswi melihat saya sebagai pria yang yang bersungguh sungguh, dan mereka yakin bahwa saya adalah pilihan yang baik untuk sang mahasiswi. Sang Mahasiswi juga mengatkaan tidak mau apa yang disebutnya dengan Pacaran seperti anak muda sekarang. Singkat sang Akhwat menantang saya untuk datang ke Jogjakarta untuk bertemu dengan kedua orang tuanya untuk membicarakan masalah ini.
Pernikahan itu indah jika Akhwat menawarkan diri. Dimulakan dengan bismillah...Ketika umur menanjak dewasa dan masa expired seorang akhwat mulai bergerak menuju pengurangan masa daya produktifitas...pernahkah tersadarkan oleh para ikhwan semua???
Disaat para ikhwan takut untuk di tolak... hanya karena belum belum punya pendapatan di atas rata2...tapi ternyata di sisi lain...saudara antum begitu takut dan bahkan sangat takut...masa itu...akan terus berjalan...hingga umur.....membuat penurunan daya produktifitasnya. Ketika seorang akhwat menawarkan dirinya kepada seorang ikhwan dengan ahsan tanpa merendahkan martabatnya agar ikhwan itu mau menikahinya, tapi di sisi lain tanggapan ikhwan terkadang memandang akhwat itu dengan tanggapan yang aneh...???
Kami ingin....melamarmu para ikhwan disaat dirimu takut melamar kami hanya karena kurang percaya diri antum. Yang bisa jadi kurangnya rasa percaya diri antum itu hanya ketakutan antum semata.... Budaya...yang sudah dari dulu terpatri dalam benak qta....bahwasanya akhwat selalu menunggu untuk dilamar dan ikhwan melamar seorang akhwat.... Tapi salahkah ketika seorang akhwat memberanikan diri untuk menawarkan dirinya kepada seseorang yang dia rasa pantas untuk mendampinginya untuk meniti jalan menuju surgaNYA. Sumber Balqis


Pertemuan Keluarga Ta aruf
Saya minta izin kepada orang tua saya di Bekasi (Jakarta Timur) untuk mampir ke rumah orang tua dia di Jogjakarta. Sebelumnya juga ortu saya sudah saya kabarkan mengenai dirinya lewat surat, jadi kedua orang tua saya sudah tahu sebelumnya. Orang tua mengizinkan, dan saya langsung berangkat dengan menumpang pesawat langsung menuju kota Jogjakarta yang belum pernah saya kunjungi sama sekali.

Atas bantuan rekan ceting saya Mas Sugeng, Mas Bram, dan anak anak Angkringan dan juga rekan satu kampus saya mas Gono yang sudah kembali di Jogjakarta, saya merasa tidak sendirian di kota gudeg itu. Maklum belum pernah sama sekali ke Jogjakarta, seumur hidup saya. Selama saya di kota Jogjakarta, saya banyak dibantu mereka untuk mempertemukan saya dengan kedua orang tua si mahasiswi ini, dan akhirnya saya bertemu dengan kedua orang tuanya, didampingi oleh Mas Gono. Pertemuan yang singkat saja, dan tidak ada Deal apa pun dengan kedua orang tua mahasiswi itu tadi. Singkat cerita akhirnya saya kembali ke Bekasi, pulang ke rumah orang tua saya langsung dari Jogjakarta via pesawat Batavia.


BOROBUDUR : Inilah pertama kali saya melihat candi Borobudur 2004 dianter dengan mas Gono boncengan naek motor. Koleksi pribadi

MAS BRAM : Lihat cowok yang di sebelah paling kiri. Itulah Mas Sugeng. Foto diambil di dekat kosan mas Sugeng di Jogjakarta. Dok Pribadi

Saat saya berada di kota Jogjakarta itulah, saya didampingi oleh Mas Sugeng, Mba Mira, Mas Bram, Mas Sigit keliling kota Jogjakarta dengan kendaraan roda dua. Sunggu suatu pengalaman yang luar biasa serunya berkeliling di kotanya Katon Bagaskara itu. JJS Ke Kraton Jogjakarta, ke Tugu, Wisata Kuliner di Pasar Bering Harjo, belanja Dagadu di Malioboro, nyeruput ronde dan foto foto wih seru bangeds. Asyik deh. Pokoknya Kota Jogjakarta yang sering disebut Never ending City memang benar adanya. Tak lama kemudian, saya pun kembali ke Bekasi, ke tempat orang tua saya. Dan saya ceritakan perjalanan saya silaturahmi saja ke keluarga sang Mahasiswi, Rudi Maryati atau Uut itu selama di Jogjakarta.


Secara kebetulan sekali, Pak Ponijo (Ayah kandung si mahasiswi) ini juga Menyusul ke Bekasi dengan menggunakan kereta Api. Beliau ke Bekasi karena salah satu anaknya yang lain Suripto juga bertempat tinggal di Bekasi. Nah dari sinilah awal pertemuan kedua keluarga kami untuk saling ta aruf. Pak Ponijo tertarik ingin bertemu dengan orang tua saya mumpung masih berada di kota Bekasi. Satu kota yang sama dengan orang tua saya yang berlokasi di Jakasampurna Bekasi Barat. Akhirnya dengan menggunakan TAXI, saya bawa kedua orang tua saya untuk menyambangi kediaman mas Suripto di Bekasi dimana sudah menunggu Pak Ponijo, ayah kandung sang Mahasiswi itu tadi.

Nah dari sinilah awal pertemuan kedua keluarga kami untuk saling ta aruf. Singkatnya, akhirnya bertemu jugalah kedua orang tua kami, dan bahkan sang Mahasiswi pun diminta datang dari Semarang ke Bekasi, ke rumah kakaknya Mas Suripto sekeluarga yang juga di Bekasi. Jadilah pertemuan keluarga kami untuk saling ta aruf dan memperkenalkan kedua anak kami masing masing. Dari sinilah akhirnya jatuh keputusan untuk segera menikahkan kami dengan waktu yang kami tentukan sendiri. Begitulah jalan cerita pertemuan ta aruf ini.

Komunikasi Jarak Jauh
Setelah pertemuan Ta aruf itu tadi, kedua orang tua kami menyerahkan sepenuhnya kepada kami berdua kapan dan dimana kami segera menikah. Semua komunikasi kami berdua dilakukan dengan jarak jauh. Artinya komunikasi hanya melalui Telepon, SMS, dan Surat Menyurat antara Pontianak dan Semarang. Banyak suka dan duka komunikasi jarak jauh antara saya dan dia yang tidak akan saya tulis di sini. Insya Allah di bagian lain aja ya. Komunikasi jarak jauh kami ini hanya berlangsung 1 (satu) tahun setelah pertemuan ta aruf keluarga kami.

Akhirnya kami "sepakat" mengurus segala sesuatunya untuk mengadakan pernikahan langsung di kota Jogjakarta. Repotnya mengurus ini dan itu bagi kami berdua yang sama sama sibuk luar biasa. Si dia yang masih menyandang status mahasiswi IKIP PGRI Semarang (Jawa Tengah), dan saya sebagai karyawan sebuah perusahaan di Pontianak. Bayangkan saja, saya di Pontianak (Kalimantan Barat), Orang tua saya di Bekasi, Orang tua dia di Jogjakarta, sedangkan dia sendiri di Semarang (Jawa Tengah). Bisakah kalian menghandle menyiapkan pernikahan melalui komunikasi jarak jauh di 4 (empat) kota tersebut?. Wallahu Alam, dan ternyata kami bisa mengaturnya. Tentu dengan banyak sekali hambatan, kendala, dan masalah pelik diantara kami masing masing.

Lalu bagaimana suka dukanya melakukan komunikasi jarak jauh tersebut?. Bagaimana mungkin melakukan koordinasi untuk mengadakan walimatul ursy sedangkan kami berada di 4 lokasi kota yang berbeda?. Jadikah kami menikah?. Bagaimana teknis seserahan dan lain sebagainya sedangkan kami berada di 4 kota yang berbeda?. bagaimana tips tips mengatur/menyiapan pernikahan ini? Penasaran Bagaimana kelanjutannya cerita kami ini?.

Simak bagian ke 2 - Love Of My Life ini di masa yang akan datang. Insya Allah.

To be continued.....

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog