Jual Milagros disini
Loading...

Love Of MyLife- Part Two


Bagi rekan blogger dan pengunjung blog saya membaca posting ini sebaiknya membaca dahulu tulisan saya sebelumnya yang berisi dan berjudul Love of Mylife Part One sehingga bisa dengan mudah mengikuti jalan cerita ini. Saya akan sangat berterima kasih jika rekan rekan sudi kiranya membaca postingan saya sebelumnya itu sehinggan akan "nyambung dengan cerita ini.

Pertanyaan bagian kemarin yang belum saya bahas di sini adalah : Lalu bagaimana suka dukanya melakukan komunikasi jarak jauh tersebut?. Bagaimana mungkin melakukan koordinasi untuk mengadakan walimatul ursy sedangkan kami berada di 4 lokasi kota yang berbeda?. Jadikah kami menikah?. Bagaimana teknis seserahan dan lain sebagainya sedangkan kami berada di 4 kota yang berbeda?. Bagaimana tips tips mengatur/menyiapan pernikahan ini? Berikut adalah bahasannya. Bagian ini habis dari dua tulisan bersambung saya. Selamat membaca. Semoga tulisan ini bermanfaat yang bagi mereka yang saat ini sedang menjalin komunikasi jarak jauh dan bagi mereka yang sedang merencanakan ingin segera menikah. Tulisan ini sudah disingkat tanpa mengurangi makna dan substansi ceritanya.



Suka Duka Menjalin Komunikasi Jarak Jauh
Banyak suka duka yang saya dan calon istri saya waktu itu yang harus kami lalui dalam membina 'hubungan jarak jauh' dengan hanya mengandalkan komunikasi melalui SMS, telepon, email dan juga surat menyurat. Dengan letak geografis kami berdua yang jauhnya bermil mil, saya berada di Kota Pontianak, dan calon istri berada di Kota Semarang (Jawa Tengah) dan masih menyandang status sebagai Mahasiswi yang sedang menyusun skripsi. Orang tua saya berada di Bekasi, sedangkan orang tua dia berada di kota Jogjakarta (Jawa Tengah). Komunikasi kami selalu berkaitan juga dengan "koordinasi" kami berdua dengan orang tua masing masing. Jadilah komunikasi kami melintasi antar pulau : Jakarta, Pontianak, Semarang dan Jogjakarta. Begitu seterusnya bersliweran kesana kemari.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan di sini adalah antara saya dan Calon istri sudah ada kemauan dan tekad yang kuat untuk melangsungkan pernikahan di kota Jogjakarta. Ini harus dicamkan dahulu dan terpenting sebelum melangkah berkomunikasi lebih intens lagi. Kesepakatan ini harus dipegang teguh dan harus memiliki kemauan yang kuat dari kami berdua. Itu syaratnya. Kebanyakan pasangan yang melakoni komunikasi jarak jauh runtuh di tengah jalan karena tidak ada komitmen dan keteguhan dalam memegang kesepakatan bersama. Kemudian kami sudah menetapkan 'hari' dan tanggal pernikahan kami yakni di Kota Jogjakarta pada tanggal 11 Desember 2005. Dipilihnya tanggal tersebut atas diskusi keluarga calon istri dan kedua orang tuanya dengan dasar bahwa tanggal tersebut ditetapkan tanpa ada cerita ini itu yang biasa membumbui dalam setiap penetapan tanggal pernikahan. Kami berprinsip semua hari adalah baik, walau ada sebagian keyakinan bagi masyarakat Jawa akan hari hari tertentu yang baik.

Suka Duka komunikasi jarak jauh banyak yang telah kami alami. Salah satunya adalah komunikasi dalam SMS Handphone. Kenapa sampai SMS dibawa bawa?. Keliatannya seperti remeh saja ya komunikasi SMS namun jangan dikira hal yang satu ini pernah membuat kami bersitegang hanya karena tidak sabar menunggu jawaban SMS dari pasangan. Mungkin bisa saja SMS tidak sampai karena komunikasi jaringan yang dodol atau error dijaringan Halo atau Telkomselnya sehingga SMS yang dikirim tidak pernah sampai atau tidak pernah terkirim. Kalian harus punya kesabaran dan toleransi yang tinggi jika ingin langgeng melakukan komunikasi jarak jauh apalagi yang sedang merencanakan pernikahan seperti kami waktu itu.

Bagaimana merencanakan pernikahan sedangkan kami berada di kota dan Pulau yang berbeda?
Setelah kami berdua menetapkan tanggal 11 Desember 2005 sebagai tanggal walimatul ursy (resepsi pernikahan) kami di kota Jogjakarta, kendala lain segera bermunculan satu persatu yang harus kami hadapi berdua. Satu persoalan selesai, muncul lagi 2 (dua) permasalahan baru. Apakah dua permasalahan itu?.

Pertama Calon istri menghadapi kendala untuk pindah dan menetap ikut suami jika sudah menikah pergi ke Kalimantan Barat. Saat itu sang calon istri harus bersabar memberi pengertian kepada ibu kandungnya yang berada di Jogjakarta yang saat itu tidak 'rela' anak gadis satu satunya dibawa ke pulau Kalimantan Barat.
Saat itu saya masih di Pontiana (Kalimantan Barat) dan sang calon istri masih kuliah di IKIP PGRI Semarang (Jawa Tengah). Orang tua calon istri berada di Jogjakarta, dan orang tua saya berada di Bekasi

Kedua. Kendala lainnya adalah kekisruhan manajemen di TK Islam Bias di Kota Semarang tempat sang istri menimba ilmu di IKIP PGRI Semarang. Kebetulan sang calon istri juga sebagai salah satu staf pengajar di TK Islam Bias Semarang itu. Manajemen TK Bias juga tidak begitu 'rela' kalaw salah satu stafnya berhenti mengajar karena pertimbangan murid murid dan kelangsungan pendidikan anak anak di sekolah itu. Namun Alhamdulillah sekali lagi kendala kendala itu berhasil di atasi oleh sang calon istri.

Sedangkan persoalan yang muncul dari pihak saya adalah menyangkut soal Finansial atau keuangan. Dari mana saya mendapatkan uang untuk membiayai pernikahan di Jogjakarta?. Terlintas di kepala saya betapa biaya yang sangat besar yang mungkin terjadi sehubungan dengan rencana pernikahan saya itu. Uang ditabungan saya hanya cukup untuk membiayai hidup saya sehari hari. Mau tidak mau saya harus mencari pinjaman ke sana kemari untuk menutupi kekurangan biaya pernikahan. Saya gadaikan BPKB Motor SupraFIT 2004 saya kepada FIF dan saya berhasil mendapatkan kredit sebesar Rp.6.000.000,- (Enam Juta Rupiah), dan dari Pinjaman Kantor tempat saya bekerja juga sekitar kisaran angka itu.


Jadikah Kami Menikah?
Lazimnya orang yang akan melangsungkan pernikahan biasanya kan sang calon mempelai pria menyerahkan uang dan seserahan berupa barang kepada calon mempelai wanitanya bukan. Nah ini juga berlaku buat saya. Hanya saja kendalanya (kendala lagi khan) saya berada di Pontianak (Kalimantan Barat) dan sang calon istri berada di kota Semarang (Jawa Tengah). Apakah saya harus menggotong gotong seserahan barang barang itu dari Pontianak - Bekasi - Semarang - lalu ke Jogkakarta?. Bagaimana caranya agar saya tidak merepot membawa barang barang itu di hari pernikahan kami kelak pada tanggal 11 Desember 2005?
Catatan : Kami sepakat acara Akad Nikah dan sekaligus resepsi Pernikahan (Walimatul Ursy) dilakukan dalam 1 paket satu hari selesai hari itu 11 Desember 2005. Kedua keluarga sudah juga menyetujui demi efisiensi waktu dan biaya. Jadualnya adalah pagi acara ijab kobul dan siangnya langsung diadakan resepsi. Ini harus disepakati dulu ya jika kalian ingin mengikuti jejak kami. Cieeee

Dan jalan keluar terbaik berhasil dipecahkan : Untuk barang seserahan yang terdiri dari berbagai paket seperi kosmetika wanita , baju dan pakaian daleman (ehm ehm), dan perhiasan disiapkan oleh sang Calon Istri dibantu rekan rekan akhwat sang Istri di Semarang (Jawa Tengah). Mereka akan membawa dahulu barang barang itu ke tempat lokasi pernikahan kami di Jogjakarta. Saya hanya mengirim uang untuk disesuaikan dengan keperluan itu. Mudah bukan?.

Detik detik menjelang keberangkatan saya untuk ke Bekasi untuk membawa rombongan orang tua saya ke Jogjakarta, saya , malam itu dikamar kos, saya sempat mengirimkan SMS bernada kepada sang calon Istri. Yang kira kira isi SMS saya adalah "Maukah kau menikah dengan ku?". Tidak begitu lama saya menunggu jawaban SMS dari sang calon istri, munculah SMS balasan dari dia yang isinya kira kira :
Jika dia beriman kepada Allah, sanggup membimbing diriku kepada NYA, dicondongkan hatiku oleh NYA kepada dirinya, maka tidak ada keraguan dalam dirku untuk menolak


Subhanallah

11 Desember 2005 Walimatul Ursy
Akhirnya dengan segala perjuangan dan komitmen kuat yang dibangun bersama akhirnya tibalah saat yang sangat mendebarkan dan menjadi tolok ukur hidup kami seterusnya. Kami sepakat untuk melaksanakan sunah Rasullah SAW untuk menikah. Hari itu tibalah saatnya yang sangat kami nantikan, Ahad, 11 Desember 2005 kami melangsungkan pernikahan di kota Jogjakarta. Berikut adalah foto foto yang berhasil saya sertakan dalam tulisan ini. Foto lebih "bercerita" bukan?

IJAB KABUL suasana setelah berhasilnya pengucapan ijob Kobul dengan satu kali ucapan saja. Setelah dilakukan ijab kabul, penanda tanganan buku nikah simbolis.

SESERAHAN : Suasana Seserahan kepada pihak mempelai wanita yang diwakili oleh keluarga kami yang berada di Jogjakarta

MENIKAH11 Desember 2005 Asep Haryono-Rudi Maryati. Jogjakarta, Jawa Tengah.

Saya langsung berangkat dari Pontianak (Kalbar) langsung menuju Bekasi , ke tempat kedua orang tua saya. Saya, kedua orang tua, dan 2 orang saudara (suami istri, Le yat dan Ngatemi. Nah Ngatemi ini adik kandung ibu saya). Dengan menumpang naek Kereta Api Aggro Anggrek berangkat dari Gambir Jakarta langsung menuju kota Jogjkarta. Sedangkan calon istri beserta rekan rekan akhwat yang mengantarnya langsung berangkat dari Semarang menuju Jogjakarta juga dengan menggunakan kereta.

Ahad, 11 Desember 2005. Pada Pagi hari dilangsungkan serah terima seserahan dan juga cincin emas sebagai tanda pelamaran. Besarnya seserahan dan cincin disesuaikan dengan kemampuan kalian ya jika ingin mengikuti jejak. Ada hadis yang mengatakan bahwa mudahkanlah dalam memberikan mahar pernikahan, dan semulia mulia pasangan adalah jika bisa memahalkan maharnya. Dengan kondisi ekonomi kami yang serba kekurangan, saya hanya sanggup menyerahkan uang kepada pihak perempuan sebesar Rp.5.000.000,- (Lima juta rupiah saja) dan segala keperluan seserahan pesta dan segala macamnya juga dibantu oleh keluarga pihak perempuan. Saya tidak mengerti mengapa saat saya mengikrarkan ijob kobul dengan tenang dan berhasil mengucapkan hanya 1 kali saja. Wallahu Alam, dari mana kekuatan ketenangan itu datang saat itu, bener bener saya tidak mengerti. Saya mengucapkan dengan tenang. Hanya Allah SWT saja yang tahu. Sedangkan siang hingga selesai dilangsungkanlah resepsi pernikahan atau Walimatul ursy hingga selesai.


Masalah terus ada di sekitar kami
Setelah menikah 11 Desember 2005 pun masih terbentang "masalah" lagi. Kali ini kata masalahnya saya cantumkan tanda petik, tentu rekan rekan maklum maksudnya. Setelah kami resmi menjadi suami istri, saya harus segera kembali ke Pontianak (Kalimantan Barat) untuk kembali bekerja sebagaimana biasanya. IZin cuti 11 hari ditambah 5 hari izin menikah terasa sangat singkat disaat kami masih menikmati hanimun (cieee). Kedua orang tua dan saudara sudah kembali ke Bekasi melalui kereta Api, dan saya bawa sang istri juga ke Bekasi beberapa hari kemudian.

Saya bawa istri ke rumah orang tua di Bekasi sekaligus memperkenalkan sang istri kepada semua sodara saya lainnya. Perlu diketahui bahwa saya adala anak ke 8 (delapan) dari 9 (sembilan bersaudara). Setelah beberapa hari di Bekasi, akhirnya saya kembali ke Semarang (Jawa Tengah) dengan menumpang kereta Anggro Anggrek yang saat itu bertarif sekitar 200 ribu rupiah. Dipilihnya kereta eksekutif Anggro Anggrek karena selain relatif cepat, juga fasilitas yang diberikannya juga keren, dan suasananya asyik dan bersih. Saya harus "mengembalikan" istri tercinta ke Semarang (Jateng) karena harus meyelesaikan skripsinya. Saya pun kembali ke Bekasi dan segera terbang ke Pontianak dengan menumpang pesawat Garuda.

WISUDA. Istri saat diwisuda dari IKIP PGRI Semarang (Jawa Tengah) pada tanggal 25 April 2006. Foto kenangan.



Minggu Minggu pertama sebagai Suami Istri
Begitulah ceritanya bahkan setelah menikah pun kami "berpisah" beberapa bulan lamanya hingga akhirnya kami bisa berkumpul kembali sekitar Mei 2006. Setelah urusan wisuda selesai, dan urusan lain juga sudah selesai, sang Istri datang dari Jogjakarta dan tiba di Bandara Supadio Pontianak sekitar Mei 2006 dengan menumpang pesawat LION AIR (Sekarang LION AIR sudah bangkrut-red). Saya didampingi oleh Mochamad atau Moch (Karyawan Percetakan Sungai Raya Pontianak Post) mendampingi saya menjemput sang istri. Dan kami pun bertiga ke rumah kontrakan yang saat itu berlokasi di komplek Komplek Griya Husada, Sungai Raya Dalam, Pontianak. Kami berdua mengontrak rumah yang sederhana di sana dengan biaya sewa kontrak pertahun saat itu taon 2005 an sekitar Rp.1.900.000,- (Satu juta Sembilan ratus Ribu rupiah). Karena sang istri aseli orang Jogjakarta, dan mungkin belum terbiasa dengan air kolam yang ada di rumah itu. Air ledeng PDAM ada tentu, tapi kalaw saat PDAM lagi 'ngerajok' kan ujung ujungnya macet juga tuh PDAM. Jadi pas Macet itulah air kolam dipake untuk keperluan mandi dan cuci. Dan air kolam itulah yang membuat sang istri tidak 'betah' menggunakan air itu. Saya bisa memaklumi. Namun sedikit demi sedikit sang istri akhirnya terbiasa untuk itu.

Dalam keadaan uang sudah habis habisan bahkan untuk makan besok harinya kami harus menghemat luar biasa. Bagaimana menyiasiati hari hari pertama kami sebagai suami istri dengan hanya mengandalkan satu gaji?. Tentu saja harus berhemat sehemat mungkin. Dalam keadaan itulah sang Istri berinisiatif untuk tidak stay at home and doing nothing saja. Kami memang sudah sepakat di awal pernikahan kami bahwa saya mendukung karir istri kelak sejauh itu tidak melupakan 'tugas'nya mengurus rumah tangga dan keluarga. Bosan berstatus sebagai "Pengacara" (Pengangguran banyak acara-red), sang Istri pun mencoba mengirim surat lamaran ke berbagai tempat mengajar kursus Bahasa Inggris , sekolah-sekolah SMA di Pontianak dan juga kampus. Semua lamaran yang dikirim ke sekolah SMA itu ditolak atau tidak diterima. Hanya satu saja lamaran yang mendapat jawaban dipanggil untuk melakukan tes, dari Yayasan Kejayaan Islam, TK Islam Al Azhar Pontianak.

Istri pun menghadapi 4 (empat) tes untuk bisa diterima mengajar di TK Islam Al Azhar Pontianak. Tes itu meliputi 1).Tes Tertulis. 2).Tes Wawancara/Interview. 3).Tes Membaca Al Quran. 4).Tes Psikotest serta Micro Teaching. Semua itu bisa dilalui dengan baik dan istri dinyatakan BERHASIL lulus dan diterima mengajar sebagai Pengajar di TK Islam Al Azhar Pontianak. Saat bekerja masih magang selama 6 (enam) bulan, lalu Calon Pegawai selama 1 Tahun, dan akhirnya diterima sebagai pegawai Penuh . Dan saat itulah ekonomi kami mulai sedikit membaik. Kali ini saya dan istri sama sama punya penghasilan tetap. Dari sinilah kami mulai membeli peralatan rumah tangga ya piring, gelas, lemari pakaian , kompor dan lain lain. Mencicil barang rumah tangga, siapa tahu kelak kami memiliki rumah sendiri, kan barang barang sudah ada ya ndak. Biar pun rumah ngontrak , tapi rajin kumpulin barang barang.

Ekonomi Mulai Membaik.
Selama kurang lebih 1,5 bulan istri masih dalam keadaan 'kosong' atau belum 'berisi', dan itu membuat hati saya sedih. Saya selalu memohon dan berdoa kepada ALLAH SWT agar kami diberikan momongan, buah hati, pelipur lara, dan penerus kami. Bulan demi bulan sang istri masih mendapatkan bulannya, dan tidak jarang saya merenung, dan mencoba tabah akan semua ini. Saya selalu berprasangka baik sama ALLAH SWT. Mungkin Allah SWT menguji kami saat itu, karena secara kebetulan saja saat itu kami masih banyak berutang sana sini untuk biaya pernikahan kami di Jogjakarta. Hutang dari lembaga keuangan, hutan dari Kantor yang jumlah NOL nya banyak itu akan semakin kerepotan jika sang anak hadir saat itu. Untuk makan aja susah. Mungkin ALLAH SWT melihat kondisi ekonomi kami saat itu yang habis habisan, jadi buah hati belum diberikan ke rahim sang istri.

Pindah Kontrakan dan Hamil
Akhirnya kami pun pindah rumah kontrakan ke Komplek Duta Bandara, Jalan Ahmad Yani II Supadio Pontianak pada tanggal 5 Pebruari 2007. Semua barang barang dari Komplek Griya Husada diborong semua ke kontrakan yang baru itu. Trims buat bang Moch dari Percetakan Sungai Raya yang selalu setia mengantar kami kesana kemari. Bang Moch bisa mengantar kami dengan mobil kantor dengan izin dari Alm.Tri Hanjaya dan juga koordinator Bang Ismail juga dari percetakan Sungai Raya.

Suatu hari saat hujan mau turun, langit di atas rumah ku sangat gelap. Angin berhembus lumayan kencang, dan secara tidak sengaja saya melihat konfigurasi langit di atas rumahku berbentuk lafaz ALLAH. Huruf itu terbentuk dari bungkahan gumpalan awan hitam kelam karena angin kencang tanda mau turun hujan. Betapa saya merinding melihat konfigurasi huruf ALLAH di langit gelap itu. Bentuk yang sangat besar sekali. Hal ini belum saya ceritakan kepada istri. Juga mengenai mimpi saya beberapa hari kemudian, dalam mimpi saya memancing ikan dan ikannya berubah menjadi seorang bayi cantik putih laki laki dan bayi itu diminta oleh orang, dan saya berikan bayi itu kepadanya. Apakah itu tanda tanda dari ALLAH bahwa istri saya akan hamil?. Wallahu Alam, Hanya ALLAH Yang tau.

Hingga pada suatu ketika, ketika saya masih di Bali dalam rangka kegiatan Kang Guru Indonesia bulan Juli 2007, saat saya sudah packing di Hotel Bali Summer saya ditelepon dari sang istri bahwa ia sudah terlambat 2 (dua) minggu, dan saya katakan hal itu sangat menggembirakan. Sekembali dari BALI, saya mengantar sang Istri ke dokter Taufiq di RS Bersalin "JEUMPA" yang terletak di depan Kantor PELNI Pontianak. Dari beliaulah diberitahu bahwa sang istri sudah hamil lebih dari 1(satu) bulan. Maha Besar ALLAH SWT.

Akhirnay berkat izin ALLAH SWT akhirnya lahirlah putra kami yang pertama. Bayi kam yang pertama. Kami memberinya nama Abbie Muhammad Furqan Haryono atau disingkat dengan Abbie. Lahir di Rumah Sakit Bersalin Jeumpa yang di jalan Sutan Syahrir pada hari Rabu, tanggal 12 Maret 2008 atau bertepatan dengan 04 Rabiul Awal 1429 H. Waktu Abbie lahir Panjangnya 50 cm, Berat 3,5 Kg.



Abbie Muhammad Furqan Haryono


Bagaimana akhirnya sedikit demi sedikit perekonomian kami membaik seiring dengan hadirnya sang buah hati pertama kami, Abbie Muhammad Furqan Haryono lahir ke dunia 12 Maret 2008 melengkapi kebahagiaan kami. Seiring itupula sang istri berhenti mengajar di TK Islam Al Azhar dan akhirnya mengantarkannya diterima dan lulus CPNS 2008 hingga kini mengajar sebagai salah satu staf pengajar Bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Kubu Raya. Kondisi keuangan kami sedikit demi sedikit mulai kearah perbaikan, dan kami akan segera mewujudkan mimpi mimpi kami yang masih lama kami simpan dan kami siap mewujudkannya kelak Insya Allah.

Sang istri pun masih berkeinginan melanjutkan kuliah S2 nya, dan saya menyarankan untuk mengambil Kuliah melalui jalur beasiswa ADS (Australian Development Studies) kuliah di negeri Kang Guru Australia. Jika tidak memungkinkan kuliah di LN, ya kuliah di UI atau UGM juga tidak masalah. Saya mendukung cita citanya. Sedangkan saya sendiri masih berjuang untuk bisa ikut tes Beasiswa Endeavour tahun 2010 mendatang, juga di Negeri Kang Guru itu, dan semoga tidak tertunda lagi seperti dua tahun sebelumnya. Dan mimpi kami lainnya adalah memili rumah sendiri walaupun cuma sederhana, dan Istri juga sangat mendukung rencana bersama kami ini. Jika semuanya berlangsung lancar Insya Allah sebelum berakhirnya tahun 2009 ini kami sudah memiliki rumah sendiri.


Rekan blogger semua..
Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi dan diambil hikmahnya bagi mereka yang sedang menjalani hubungan jarak jauh dan yang serius ingin menikah. Kepada ALLAH SWT jugalah saya serahkan semuanya

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog