Jual Milagros disini
Loading...

Duka Pahlawan Devisa

Tag : TKW - Asep Haryono | Duka Pahlawan Devisa - Powered by Blogger

Dear Blog,

Masih ramai dibicarakan orang saat ini kasus penganiyaan berat yang dilakukan oleh Majikan Arab Saudi terhadap seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKW)Surmiati hingga babak belur dan sampai sekarang kasusnya masih menggantung. Ada lagi kasus TKW Indonesia lainnya yang juga kurang bernasib mujur seperti yang baru baru ini terjadi di Situbondo. Seorang TKW bernama Hosna (27 Tahun) yang juga dianiaya dengan cambuk dan rotan dan gajinya selama 2 (dua) tahun bekerja di Arab yang juga tidak kunjung dibayarkan. Dua kisah TKW yang memilukan di atas masih lebih "baik" ketimbang nasib naas yang dialami oleh TKW lainnya, Kikim Komalasari, yang bahkan harus tewas juga ditangan majikannya di Arab Saudi. Sungguh memilukan duka TKW kembali terjadi lagi, dan terus terjadi lagi. Mengapa harus terjadi?

Mengapa menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) masih merupakan salah satu sumber uang yang diburu oleh rakyat Indonesia sekarang ini? Walaupun pemberitaan di berbagai media gempar diberitakan banyaknya nasib TKW yang dianiaya, diperkosa, diperlakukan semena mena oleh Majikan di luar negeri, namun tetap saja ratusan bahkan ribuan para pencari kerja di Indonesia masih menggantungkan harapan untuk bisa terpilih menjadi TKI dan Bekerja di Luar Negeri. Salah satu alasan utama mengapa rakyat kita masih memilih TKI untuk bekerja di luar negeri adalah karena masalah ekonomi.

Alasan ekonomi menjadi panglima dari perburuan uang di luar negeri. Berbagai kisah sukses para TKI di luar negeri, dan juga karena cerita yang dihembuskan oleh agen agen Nakal Para Pengusaha pengerah TKI juga menjadi salah satu penyebabnya. Walaupun mereka tau akan kemungkinan resiko terburuk yang bakal diterimanya sebagai TKI, namun berjudi dengan nasib dengan bekerja di Luar Negeri sebagai TKI tetap menjadi incaran rakyat Indonesia. Menjadi TKI dan Bekerja di luar negeri masih dianggap sebagai cara paling instan untuk bisa keluar dari kemiskinan dan masalah ekonomi keluarga yang semakin tinggi keperluannya.

Saya aja tidak mengerti ada apa dengan bangsa Indonesia saat ini. Padahal dalam Undang Undang Dasar 1945 asal 34 yang secara jelas menyebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Nah kemana pelaksanaanya kalaw sudah jelas tercantum dalam UUD 1945. Mengapa Bangsa Indonesia lupa akan UUD negaranya sendiri?. Bukankah adalah kewajiban Negara untuk melindungi hak hak dasar pemenuhan ekonomi yang harus didukung oleh Negara ini juga sesuai dengan deklarasi universal Perserikatan Bangsa Bangsa. Mengapa hal ini terjadi wahai Indonesia ku yang malang.

Dalam sebuah konperensi tentang MDG (Millenium Development Goals) yang pernah saya hadiri di Hotel JW Marriott Kuningan Jakarta beberapa waktu yang lalu juga telah dibahas bahwa menjelang tahun 2015 semua negara di dunia termasuk Indonesia dibebani target untuk bisa mencapai 8 (delapan) pencapaian MDGS. Diantara target pencapaian itu adalah Mengentaskan kemiskinan dan kelaparan mutlak, mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, mengurangi ketimpangan gender dan pendidikan. Nah sudah jelas disana tercantum upaya untuk "mengentaskan kemiskinan" adalah kewajiban Negara kepada rakyatnya.

Di saat sumber sumber penghidupan dan fasilitas negeri ini dihisap oleh lintah darat, cecungguk ekonomi perusak ekonomi rakyat sekelas Gayus Tambunan, juga masih ditambah lagi dengan angka pengangguran yang tinggi disertai dengan tingginya kemiskinan akut di seluruh Indonesia. Beban masyarakat semakin bertambah berat dengan naiknya harga harga kebutuhan pokok di Pasaran. Semua faktor faktor ini bisa menjadi pemicu (trigger-red) bagi rakyat Indonesia yang sudah putus asa , kalap dan frustasi dan mencari jalan pintas untuk bisa keluar dari himpitan kemiskinan. Nah cara yang ditempuh itu adalah menjadi TKI, Tenaga Kerja Indonesia. Menjadi buruh migran sebutannya. Nah apa pun sebutannya, menjadi TKI adalah pilihan yang paling waras di negeri yang sudah tidak waras lagi pengelolaannya ini.

Kita mungkin bisa meninjau ulang pola kerja sama kita dengan Negara tujuan TKI itu seperti Malaysia dan Arab Saudi. Tapi menghentikan sama sekali pengiriman TKI juga tidak akan menyelesaikan masalah. Efek domino pasti akan ada. Menghentikan sama sekali pengiriman TKI berarti menambah pengangguran dan bisa menutup peluang bagi rakyat untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Tetapi mengizinkan pengiriman TKI kembali berlanjut berarti membiarkan rakyat Indonesia menjadi "pengemis" di negara lain.

Tugas negara ini adalah melindungi warga Negara Indonesia di mana saja berada. Kalaw memang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan buat rakyat Indonesia, maka berikanlah perlindungan dan jaminan keselamatan bagi rakyatnya untuk mengadu nasib di negeri orang. Jangan hanya mau devisanya aja, dan mengelu elukan para TKW sebagai pahlawan devisa, tapi melupakan kewajiban Negara untuk menjadi pengayom dan pelindung TKI di mana saja berada.

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog