Jual Milagros disini
Loading...

Sosialisasi Bermain Layang Yang Aman Melalui Pendekatan Keluarga


Salah satu penyebab kebakaran dan konsleting listrik adalah penggunaan tali kawat dalam bermain layang layang. Mengapa demikian berbahaya? Karena jika tali kawat yang digunakan dalam bermain layang layang itu melilit satu atau dua kabel bisa menjadi penghantar listrik yang sangat berbahaya karena bisa menimbulkan Korseleting listrik (hubung singkat) hingga bahaya kebakaran pada trafo gardu PLN yang berharga amat mahal itu

Tidak diragukan lagi bahwa bermain layang layang memang sangat mengasyikan. Bukan cuma anak-anak saja bahkan banyak orang dewasa pun sering turut larut bermain layang layang. Hasrat memainkan layang-layang umumnya selalu menggelora – tak terkecuali orang dewasa di kota Pontianak. Orang Dewasa juga senang bermain layang layang karena alas an nostalgia tempo dulu di desanya yang masih didominasi ruang terbuka mampu membangkitkan sisi kanak-kanaknya untuk bersuka ria melupakan problematika kehidupan sejenak. Bermain layang layang sangat menyenangkan dan bisa membuat pikiran menjadi lebih santai dan suasana hati menjadi lebih gembira

Minimnya arena tanah lapang membuat bermain layang-layang dibayangi sejumlah risiko. Bahaya permainan layang-layang di jalan raya bukan saja bagi dirinya tetapi orang lain. Banyak kasus terjadi dimana para pengendara motor dan pejalan kaki yang terluka terkena sambaran tali benang gelasan yang melintang di tengah jalan. Dan hal ini akan lebih berisiko lagi jika benang yang digunakan adalah tali kawat karena bisa menyangkut pada jaringan listrik yang bisa menimbulkan resiko korseleting listrik dan menimbulkan kebakaran dan tersengat aliran listrik yang bisa menimbulkan korban jiwa.

Peran Orang Tua
Yang jadi pertanyaan di sini adalah mengapa sampai sekarang pun anak anak atau pun orang dewasa masih suka bermain layang layang menggunakan tali Kawat di Jalan Raya atau bahkan di pemukiman padat?. Haruskan para orang tua melarang secara membabi buta tanpa menjelaskan bahaya bermain layang dengan tali kawat kepada anak anaknya?. Kalau kita cermati bahwa perilaku anak yang kadang “memberontak” jika permainan yang menjadi kesenangannya itu dilarang oleh para orang tua. Mereka secara diam diam tetap mencari cara agar kesenangannya bermain layang layang tetap tersalurkan karena memang fitrah anak anak adalah bermain. Anak anak bisa melakukan “unjuk rasa” atau protes terhadap ketidaktersediaan ruang publik atau tanah lapang bagi mereka bermain layang layang bersama rekan rekan sebayanya di manapun mereka sukai.

Para Orang Tua perlu menyikapi fenomena ini secara bijaksana tanpa harus membunuh kreativitas dan fitrah sang anak akan kesenangannya bermain layang layang. Pendekatan Keluarga mutlak diperlukan agar tercipta solusi yang cerdas untuk menjadikan permainan layang-layang tetap dinikmati, aman dan mengasyikan bagi sang anak. Para Orang Tua harus dapat menjamin bahwa bermain layang layang itu aman dan hobi sang anak tidak tersumbat.

Beberapa langkah dapat ditempuh misalnya menemani anak bermain di tanah lapang sekaligus mengisi waktu luang. Sentuhan dan perhatian ini akan membahagiakan anak merasa dihargai dan diperhatikan. Cara ini sangat baik untuk mengasah kreasi, imajinasi dan prestasi anak. Momen ini tidak lagi mengarahkan bermain layang-layang saling mengalahkan dengan memutus talinya, tetapi lebih diarahkan kepada bermain layang dengan aman dan mengasyikan seperti menghiasi layangan menjadi hal yang indah dan menarik untuk dimainkan seperti keunikan, motif hias, ketinggian, atau kemampuan manuver di angkasa..

Permainan layang-layang sesungguhnya amat baik bagi anak-anak. Dari permainan itu didapat semangat kerjasama, mengenal alam dan semangat kerja keras sehingga mampu menjadi media mengeksplorasi lingkungan sesuai dengan fitrah anak untuk bermain, bergerak, dan sumber keceriaan.. Padahal dengan permainan ini anak belajar mengembangkan potensi dirinya dan beraktualisasi, bergaul, menghormati hak-hak orang lain, taat asas dan kehidupan sosial dengan sebayanya.

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog