Jual Milagros disini
Loading...

Mengikuti Workshop MDGs di JW Marriot

Dari Workshop dan Comparative Study on MGDs di JW Marriott
Sasaran Masih Panjang , Banyak Yang Harus Dibenahi
Laporan Asep Haryono. Jakarta




Pengantar
Setiap negara di dunia mempunyai komitmen untuk mencapai 8 (Delapan) pencapaian Pembangunan Milenium atau dsingkat dengan MGDS (Millennium Development Goals ) dan diharapkan membuat laporan MDGs. Pemerintah Indonesia melaksanakannya dibawah koordinasi Bappenas dibantu dengan Kelompok Kerja PBB dan telah menyelesaikan laporan MDG pertamanya yang ditulis untuk menunjukkan rasa kepemilikan pemerintah Indonesia atas laporan tersebut. Namun Laporan Sasaran Pembangunan Milenium ini dirasakan kurang menjabarkan upaya awal pemerintah untuk menginventarisasi situasi pembangunan manusia yang terkait dengan pencapaian sasaran MDGs. Berbagai tolok ukur, analisa lintras provinsi sering berbeda antara satu dengan lainnya. Pengindentifikasian, dan peninjauan kembali kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah amat dibutuhkan untuk memenuhi sasaran-sasaran ini. Berikut laporannya

------ooooo---------

Jika mendengar nama Hotel JW Marriott Kuningan Jakarta, pastilah ingatan kita semua terulang akan kejadian yang mengerikan berupa pemboman yang pernah meluluhlantakan hotel yang sahamnya dipegang Amerika itu beberapa tahun silam. Suasana mencekam dan ketakukan akan terulangnya BOM meledak di hotel mewah di Jakarta itu nyaris sirna ketika pertama kali menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di JW Marriott Kuningan Jakarta itu. Memenuhi undangan Millenium Development Goals (MGDS) Indonesia untuk mengikuti workshop dan study yang bertemakan "Government and Parliamentary Synergy Progress Toward For Accelerating To Achieve MDGs by 2015" di JW Marriott Kuningan Jakarta yang berlangsung dari tanggal 16 s/d 19 September 2010 beberapa waktu yang lalu.

Materi yang disajikan dalam seminar ini cukup berbobot dan sangat bermanfaat terutama pada policy daerah masing masing di seluruh Indonesia guna segera melaksanakan 8 (delapan) buah target MGDs yang harus sudah rampung atau minimal banyak yang sudah dilaksanakan sebelum menjelang tahun 2015 yang akan datang. Jadi dengan kata lain yang tersisa waktu lebih kurang 5 (lima) tahun dari sekarang. Sungguh suatu waktu yang amat pendek, dan perlu kerja keras yang luar biasa dari seluruh rakyat Indonesia dalam melaksanakan pencapaian MGDs itu hingga merata ke seluruh Indonesia.

Ke Delapan tujuan pembangunan internasional tersebut sudah pula mencakup poin penting lainnya yang tidak bisa dilewatkan begitu saja yakni mengurangi kemiskinan absolut (reducing extreme poverty), mengurangi angka kematian kelahiran anak (reducing child mortality rates) , memerangi bahaya epidemik seperti AIIDS (fighting disease epidemics such as AIDS) dan juga turut mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan bersama (developing a global partnership for development). Cieeeee bahasanya wee.

Apa itu MGD?
Sasaran Pembangunan Millennium (bahasa Inggris : Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah delapan tujuan yang diupayakan untuk dicapai pada tahun 2015 merupakan tantangan tantangan utama dalam pembangunan diseluruh dunia. Tantangan-tantangan ini sendiri diambil dari seluruh tindakan dan target yang dijabarkan dalam Deklarasi Milenium yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000.

Pada September 2000, Pemerintah Indonesia, bersama-sama dengan 189 negara lain, berkumpul untuk menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York dan menandatangani Deklarasi Milenium. Deklarasi berisi sebagai komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah sasaran pembangunan dalam Milenium ini (MDG), sebagai satu paket tujuan terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.

Adapun ke 8 Tujuan Pembangunan internasional itu antara lain adalah :
  1. Pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim (Eradicate extreme poverty and hunger)
  2. Pemerataan pendidikan dasar (Achieve universal primary education)
  3. Mendukung adanya persaman jender dan pemberdayaan perempuan (Promote gender equality and empower women)
  4. Mengurangi tingkat kematian anak (Reduce Child Mortality Rate)
  5. Meningkatkan kesehatan ibu (Improve maternal health)
  6. Perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya (Combat HIV/AIDS, malaria, and other diseases)
  7. Menjamin daya dukung lingkungan hidup (Ensure environmental sustainability)
  8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan (Develop a global partnership for development)

Kurang Greget
Namun ada nuansa yang menurut beberapa orang peserta workshop yang merasa masih kurang kena sasaran setelah seminar dan workshop MGDs yang rata rata berusia muda dan berstatus Mahasiswa ini. Kurangnya porsi diskusi yang direncanakan oleh panitia pelaksana MGDs menjadikan seminar dan worksho ini masih jauh dari harapan. Bayangan saya sebelumnya bahwa diskusi dan workshop MGDs ini akan liat, ketat dan komprehensif meleset jauh dari dugaan ku sebelumnya.
"Acaranya menarik dan temanya bagus, dan teknis pelaksanaannya juga baik. Secara keseluruhan mungkin kalaw bisa forum diskusi bisa lebih diperbanyak porsinya. Kalaw bisa satu harian biar lebih maksimal. Follow up kegiatan berupa pertemuan rutin apa saja yang harus dilakukan di sini." Kata Rusli Lim, peserta MGDS yang berasal dari LSM Aliansi Remaja Independen Jakarta. Senada juga dilontarkan oleh Konsep Wicaksono, Mahasiswa Jurusan Teknik Geofisika ITB Bandung. ""Senang dan banyak hal yang mesti di dapat dari pertemuan ini. Kesan yang semula timbul bahwa workshop MGDs terkesan tua agar dihindari agar pemuda pemuda Indonesia bisa lebih akrab mendengarnya dan lebih dilibatkan. Diskusi nya kurang panjang, malah diskusi sesama peserta jadi paling sedikit porsinya" kata mahasiswa jurusan akhir ini
"Di harapkan memang para peserta yang hadir di Workshop MGDs ini bisa mengimplementasikan ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya sehingga bisa diaplikasikan sesuai dengan bidangnya masing masing, jadi tidak hanya seremonial saja yang ada" Kata Gugun Gumilar, Ketua Korodinator Peserta Workshop tersebut

Dan Memang pengamatan saya sendiri ada banyak bangku bangku para perwakilan asing dari negara ASEAN yang diwakili oleh bendera itu tidak ada orangnya. Yang saya liat hanya peserta dari negara Thailan dan Philiphina saja yang hadir di acara itu. sekaligus menyajikan makaslahnya. Kemana perwakilan dari negara sahabat Indonesia lainnya seperti Singapura, Kamboja, Vietnam, Brunai Darussalam serta negara lainnya. Amerika Serikat saja tidak keliatan batang hidungnya. Hanya utusan dari AusAID Australia saja yang hadir di acara itu dan memberikan presentasinya. Walhasil acara diskusi dan workshop nyaris terasa seperti sayur tanpa garam. Bayangan akan debat dan diskusi yang seru membahana juga jauh dari harapan yang aku rasakan. Fasilitas mewah dan infrastruktur sidang di JW Marriott seakan belum mampu memberikan suasana workshop yang maksimal dari seminar MGDS kali ini.

Namun secara pribadi aku kagum dengan hotel JW Marriott dan terutama Ritz Carlton saat kami mau sholat Jumat di sana. Bagaimana sang satpam memintaku untuk menghapus foto yang saya ambil di depan Ritz Carlton dengan alasan keamanan. Aku juga sudah merasakan nuasan saat terjadinya pemboman di Ritz Carlton di lantai 2 itu. Walaupun sudah rapih tertata, tapi aku bisa melihat dengan mata kepala sendiri, posisi dimana seorang pelaku pembom bunuh diri itu berjalan dari ruang tamu ke ruang cafe dan akhirnya terjadi ledakan di sana. Pemeriksaan keamanan dan security check di pos pos tertentu di Ritz Carlton terasa amat ketat dan kadang membosankan. Ada suasana mencekam ngeri saat menaiki anak tangga di Rizt Carlton itu. Namun suasana kembali cair saat kami kembali ke Marriott.

Ah pengalaman berharga yang tidak terlupakan



No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog