Jual Milagros disini
Loading...

Pelit atau Tamak



Dear Blog

Tentu kita semua memiliki sifat sifat dasar alamiah yang Allah SWT berikan kepada kita para hambaNYA. Kita semua memiliki sifat dan karakter yang terbentuk dari sejak kita lahir hingga (pada akhirnya) kembali menghadap sang Pencipta. Beberapa sifat dasar manusia memang terbentuk sejak lahir dan bersifat absolut tetap dan tidak dapat dibentuk dengan bantuan orang lain. Sifat pembawaan dari lahir ini konon bisa berupa karakter dasar dan aseli seseorang yang tercipta dari sejak lahir.

Pelit atau Kikir dan Tamak adalah dua sifat yang bertolak belakang satu dengan lainnya namun mempunyai kaitan yang sangat erat kepada HARTA. Apa itu Kikir?. Dalam agama Islam tercantum Firman Allah SWT: “Dan dia amat keterlaluan dalam mencintai harta.” (QS al-’Adiyat:8). Keterlaluan mencintai harta dapat menggiring pelakunya kepada sifat pelit, bakhil atau kikir. Padahal sesungguhnya, kekayaan atau harta itu sendiri bukan merupakan suatu kejelekan, namun rakus terhadap harta itulah yang buruk. Nah firman Allah SWT inilah bisa kita dapat gambaran jelas mengenai apa itu Kikir sebenarnya.

Dalam dunia kerja kita tidak terlepas dari hubungan sosialisasi dan persahabatan dengan rekan sekerja kita. Dengan rekan kerja kita, dengan klien kita, bahkan dengan atasan atau BOS sekalipun, kita semua pasti akan bersinergi satu sama lainnya sehingga terciptalah lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan. Namun bagaimana kalaw kita menghadapi teman kerja atau BOS yang memiliki sifat Tamak dan Kikir ini?. Loh jangan buru buru kita menuduh bos kita bersifat demikian. O tidak. Saya tidak mengatakan BOS itu orangnya Pelit dan Tamak. Siapa pun (begitu juga saya sendiri-red) pasti tidak akan menerima dituduh sembarangan. Bisa bisa anda kena pasal perbuatan tidak menyenangkan loh hahahaha. HWehehehehhee.

Tapi anda sudah bisa menilai dari sikap dan attitude seseorang dari kesehariannya. Bisa dilihat apakah itu kecenderungan dari personifikasi sifat Kikir atau Tamak. Bisa kita analisa satu persatu. Pelit atau KIKIR dalam kamus saya tidak selalu berkonotasi dengan Harta kekayaan atau Harta Benda secara fisik. Pelit dalam memberikan penghargaan kepada karyawan juga saya masukkan dalam sifat pelit seseorang. Pelit mengangkat karyawannya yang sudah layak dan memenuhi standar diangkat sebagai pegawai Tetap. Di sisi lain penghargaan yang tidak terbatas diberikan kepada individu individu tertentu yang menurut sebagian banyak orang dirasakan tidak adil.

Tidak adil karena ada karyawan yang sudah bekerja bertahun tahun namun masih menyandang sebagai KKA (Karyawan Kontrak Abadi-red). Sedangkan beberapa lainnya yang masih bisa dibilang "anak kemarin" sore sudah sukses memperoleh status pegawai tetap. Bukankah ini menyakiti perasaan karyawan lain yang lebih lama masa tugasnya. Lalu dimana ukuran dan syarat untuk bisa diangkat sebagai pegawai tetap juga tidak pernah sampai atau tidak pernah disosialisasikan. Ini bisa saya sebut dengan PELIT. PELIT dalam memberikan informasi kepada bawahannya. Jadi PELIT atau KIKIR tidak selalu identik dengan Harta. Jelas bukan? Hehehehe.

Juga soal BONUS. Hmm. Ini agak sensitif nih soale menyangkut urusan duit duit money fulus fulus. Saya harus berhati hati menulisnya. Begini saja. Dalam pandangan saya yang awam ini BONUS merupakan 'hadiah' atau dalam bahasa Inggrisnya "gift" atau "present" dari sang Bos kepada bawahannya. Sepanjang yang saya tahu BONUS bukan termasuk poin kewajiban dari Perusahaan untuk diberikan kepada karyawannya. Lain soal kalaw soal THR dan JAMSOSTEK yang merupakan HAK pekerja. Penjara urusannya bagi pengusaha yang tidak memberikan THR ini. Sedangkan dalam soal pemberian BONUS, kita kita secara hukum tidak dapat menuntut. Ini adalah murni hadiah atau pemberian sang Bos kepada para karyawannya. Mau dikeluarkan (BONUS) atau tidak itu adalah HAK sepenuhnya dari sang bos.

Mungkin kita kita hanya menghimbau secara moril atau moral saja. Banyak keluarga keluarga, saudara saudara kita yang mengharapkan keluarnya sang BONUS. Apalagi bulan bulan ini adalah masa Libur anak sekolah, dan tidak lama lagi mereka akan masuk ke sekolah. Tentu perlu buku baru, seragam sekolah baru, tas Baru dan lain sebagainya keperluan sekolah. Belum lagi keluarga yang harus memasukkan dan mendaftarkan anaknya ke sekolah entah SMP, SMA, dan tentu banyak biaya yang harus dikeluarkan. Nah darimana uangnya? Untuk mengharapkan gaji jelas tidak cukup. Juga bagi keluarga atau karyawan yang terlilit hutang seperti saya. Hehhee. Serta Keluarga keluarga yang harus mencicil kredit barangnya, bayar tagihan listrik , air, dan lain sebagainya perlu "dana segar" untuk keperluan keperluan itu. Tentu saja mereka menaruh harapan besar keluarnya sang BONUS yang dianggap sebagai 'berkah' atau uang kaget yang banyak manfaatnya.

Pakar Keuangan Keluarga, Safir Senduk dan Rekan juga pernah mengatakan. Jika anda ingin melunasi cicilan hutang, membayar kredit motor, membayar cicilan rumah, atau membayar tagihan listrik, air, dan lain sebagainya, sebaiknya menggunakan UANG KAGET atau semacam BONUS. "Jadi gunakanlah BONUS untuk anda gunakan untuk membayar keperluan penting anda seperti rumah, air, sekolah, listrik dan lain sebagainya. Anda sebaiknya tidak menggunakan BONUS untuk keperluan konsumtif. Sayang kata anda, bijak kata saya" demikian kata Pakar Keuangan Keluarga Safir Senduk. Oh bijaknya.

jadi kesimpulannya, Jadi kita tidak boleh menuntut BONUS dikeluarkan. Ini adalah hak dari BOS kepada kita. Seperti yang saya sebut di atas, BONUS merupakan 'hadiah' atau dalam bahasa Inggrisnya "gift" atau "present" dari sang Bos kepada bawahannya. Sepanjang yang saya tahu BONUS bukan termasuk poin kewajiban dari Perusahaan untuk diberikan kepada karyawannya. Lain soal kalaw soal THR dan JAMSOSTEK yang merupakan HAK pekerja. Dikeluarkannya sang BONUS atau TIDAK adalah hak sepenuhnya dari sang BOS. Kita sebatas menghimbau secara moril aja agar segera dikeluarkan (BONUS) mengingat manfaatnya akan sangat dirasakan oleh para keluarga karyawan yang bergaji pas pasan seperti saya> hehehe

Rasul saws bersabda: “Dua sifat yang tidak ada pada diri seorang mu’min: kikir dan akhlaq yang buruk!” (HR. Ahmad dan Minhaj al-Shalihin:312). Semoga BOS tidak PELIT dalam mengeluarkan BONUS bagi karyawannya.

Semoga



No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog