Jual Milagros disini
Loading...

Mengapa Diturunkan?


Dear Blog,

Tadi siang menjelang sore saat aku kembali dari rumah ke kantor untuk mengabsen pulang kuliat salah seorang senior saya di kantor terduduk jongkok sambil memainkan Hand Phone (saya rasa bukan HP nya yang dimainkan, melainkan sedang mengirimkan SMS atau sedang membaca SMS-red). Masa iya sih sudah segede itu masih maenan Hape emangnya anak kecil wahehhehehe. Sebut saja nama orang itu dengan inisial "K". Dia memang sudah puluhan taun bekerja di kantor, dan orang sudah pada tau pada karakter orang ini yang keras, dan sentilan sentilannya memang tajam setajam silet. Wahaha udah kaya nama pogram TV Swasta aja ya SILET.

Hmm lalu apa yang menjadi perhatian saya saat itu?. Sebenere isu dia dicopot dari Jabatannya sebagai komandan PraCetak sudah lama saya dengar. Nda begitu lama sih ya cuma beberapa hari saja. Masa iya sih beberapa hari disebut lama sih? hehehe iya sih maklumlah lebay lebay gitu hehehhee. Info ini saya dapat dari rekan senior saya juga di kantor, tapi lu tau kan kalaw gue tipe yang tidak mau mempercayain isu isu apa saja sebelum konfirmasi langsung sama orangnya. Seperti kemarin saya konfirm ke petinggi kantor soal boleh tidaknya saya ikut pelatihan Konperensi Asia Afrika di Bandung untuk 23-28 Agustus 2009 nanti yang berbiaya 3 juta rupiah itu. 3 juta itu ukuran harga "cemilan" untuk kantor yang bisa dan mampu memberangkatkan orang sampai ke negara tirai Bambu alias China itu.

Dan ternyata jawbannya sudah diduga. Tidak bisa. Tidak bisa atau pelit?. Mereka bilang selain CUTI, izin keluar hanya akan diberikan jika kegiatan itu sesuai dengan latar belakang dan job deskripsi masing masing unit kerja. Dan itupun harus diacc sama atasan atau manager yang bersangkutan. Jawaban standar saja. Saya anggap jawaban itu masih bisa diterima dan masuk akal. Namun demikian ada sisi lain mengapa jawaban itu diberikan?. Mengapa kantor tidak mau mendukung karyawan yang ingin meningkatkan pengetahuan dan otaknya dengan mengikuti pelatihan dan pendidikan diluar jam kerjanya di kantor?. Mengapa pelatihan dan pendidikan itu harus sesuai dengan bidang pekerjaan atau menunjang pekerjaan di kantor?. Mengapa kantor tidak mau mendukung karyawan yang menimba ilmu "lompat pagar" untuk menunjang wawasan dan pengetahuannya dan tidak harus terkotak kotak dengan disiplin ilmunya?.

Coba saja bandingkan dengan rekan rekan saya yang wartawan. Banyak dari rekan wartawan yang tidak sesuai atau tidak memiliki basic wartawan. Tetapi dia mampu. Saya salut dengan rekan wartawan. Saya bangga pada mereka. Kita boleh saja menimba ilmu apa saja. Meluaskan pengetahuan tidak selalu harus dibidangnya masing masing. Orang kuliah tidak selalu mengejar selembar ijasah Strata 1. Orang kuliah jangan selalu dianggap sebagai pabrik nya menghasilkan para penganggur. Itu tidak baik berpendapat sangkaan buruk. Orang kuliah juga perlu untuk menajamkan wawasannya meluaskan pikirannya agar semakin bijaksana dan mempunyai padangan yang cermat dalam menentukan langkahnya di kemudian hari. Wawasannya akan semakin tajam dengan hadirnya dia diberbagai forum kemahasiswaan, dan itu bisa dicapai dengan semakin berkembangnya otak sang mahasiswa dengan berbagai ilmu pengetahuan.

Orang tidak harus belajar sesuai dengan bidangnya. Kalaw kita selalu membatasi diri untuk bidang pengetahuan yang hanya terkotak pada pekerjaannya saja, saya yakin bagai katak dalam tempurung. Wawasannya pendek, tidak cermat, dan cenderung akan membodohi diri sendiri karena menutup diri dari surga ilmu diluar sana. Ilmu apa saja sejauh itu baik akan selalu bermanfaat bagi pengembangan pendidikan dan wawasan berpikirnya yang secara tidak langsung juga akan menunjang pekerjaannya.

Kembali ke soal rekan saya yang tiba tiba "kehilangan" posisinya sebagai komandan pracetak itu?. Saya jadi bertanya : apa yang diperbuatnya sehingga dia di "copot" dari jabatannya. Mengapa itu bisa terjadi?. Apa karena sepak terjangnya yang dinilai kantor terlalu "keras" sehingga perlu di "bungkam"? Atau apakah karena ada alasan atau motif Politik atau ekonomi dibalik pencopotannya itu?. Saya coba menelaah mengapa itu bisa dilakukan terhadap nya?. Pertama, mungkin saja dia terlalu "pedas" lidahnya dalam bertutur sehingga telah membuat orang lain teluka hatinya. Ya bisa saja kan orang gayanya ceplas ceplos gitu, yang bagi orang tertentu pasti akan tersinggung. Ini dugaan sementara saya.

Kedua, mungkin Mr K ini dicopot dari jabatannya karena akan sangat "merepotkan" untuk dibayar pesangonnya jika diberhentikan (PHK) atau kelak jika sudah waktunya dia pensiun?. Hahaha lucu. Kata "pensiun" langsung membuat saya tertawa. Iya lucu aja karena sudah mau nyaingin Pegawai Negeri Sipil dengan sebutan Pensiun. Dalam konsep saya yang sederhana dan awam ini, Pensiun itu akan selalu mendapatkan insentif walau dia sudah tidak bekerja lagi. Apa iya kantor saya kaya gitu?. Hmmm ini dugaan saya yang kedua saja. Yang Ketiga, mungkin memberikan memberikan efek jera bagi siapa saja yang mencoba sebagai potential deffender (sebutan Pak Prof Muladi untuk menyebut orang yang berpotensi membuat "onar"- red). Jadi orang akan takut untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Mr K.

Saya sendiri sebenere sudah bisa membaca arah kemana ini akan terjadi. Saya sendiri sudah tidak lagi melancarkan serangan dengan kritikan dan kontrol sosial. Saya sudah fade away (menyingkir - red). Bukan karena ingin dianggap pahlawan ya. Ya karena saya "gerah" banyak ketidak beresan dan ketidak adilan yang terjadi di depan mata saya dan saya tidak dapat melakukan apa apa. Sekarang sudah jelas semuanya. Tembok itu tidak dapat dirubuhkan dengan kepalan tangan saya yang mungil. Mr K dalam pandangan saya mempunyai kharisma sendiri (Ntah merek motor dia apa ya. apa iya merek kharisma hahahaha-red). Mr K punya bakat sebagai "The Giant Killer" atau pembunuh raksasa yang akhirnya bisa "dibunuh" secara halus melalui "character assasination" (pembunuhan karakter-red) dengan cara dicopot seperti ini. M

Mungkinkah ide pencopotannya hasil dari "bisikan" seseorang yang tidak senang kepadanya?. Apakah ada konspirasi tingkat tinggi dibalik pencopotannya sebagai Kabarestak (Kepala Barisan Pracetak-red) itu. I don't like this game. Saya turut prihatin

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog