Jual Milagros disini
Loading...

Kenapa Kita Tidak Mau Belajar ?


Dear Blog Ku Sayang.

Waktu sedemikian cepatnya sampai tidak terasa sudah lebih dari 7 (tujuh) tahun saya bekerja di kantor milik juragan nanas ini. Memang masih teramat baru, dan bahkan masih terbilang anak “baru kemarin sore”. Emang iya dibanding dengan rekan rekan kerja saya yang sudah tinggi masa kerjanya mulai dari belasan taon hingga puluhan taon. Namun biarlah saya tulis semua dalam BLOG ini sebagai media yang bisa mengakomodir suara hati yang paling terdalam.

Belajar seperti yang menjadi tema posting saya kali ini. Apa itu belajar atau "belajar" dengan menggunakan tanda petik. Belajar , semua orang tau, adalah proses mempelajari sesuatu. Sedangkan "belajar" yang menggunakan tanda petik adalah proses kontemplasi seseorang terhadap pengalaman dan bagaimana dia bisa menarik hikmah dan berusaha memperbaiki sikap dan diri. Kata "belajar" menjadi kata yang sah dan mudah sekali kata itu diucapkan oleh oleh siapa saja, bahkan oleh anak Sekolah Dasar sekalipun. Dalam konsep seorang anak Sekolah Dasar (SD), kata Belajar sudah menjadi kewajiban tidak tertulis sang anak untuk mulai membuka buka buku pelajaran. Belajar baginya adalah mempelajari sesuatu, menghapalkannya, dan siap untuk melaksanakan ulangan yang diberikan oleh guru. Bagaimana dengan diri kita? Bisakah kita belajar dari ini semua?. Apakah anda sudah "belajar"?

Namun kata ini menjadi sesuatu yang memalukan sekaligus tabu untuk sebuah perusahaan besar yang mengklaim dirinya sendiri yang terbesar ini. Kata “belajar” tidak pernah terpatri dalam dalam di benak mereka. Istilah kerennya sudah tenang dengan zona kemapanan, hingga khirnya terlena dalam lingkaran kemapanan sehingga menganggap dirinya sudah sempurna, tidak ada cacatnya. Padahal sikap merasa sudah pintar inilah yang justru menjadi bumerang. Mereka tidak mau dan tidak bisa belajar dari kesalahan yang sudah dibuat berulang ulang.

Berbagai kesalahan cetak, kesalahan pengutipan, pemakaian huruf besar, dan lebih fatal lagi adalah kesalahan dalam penulisan yang berasal dari bahasa Asing. Saya sendiri sudah capek (letih – red) memberi informasi kesalahan pengutipan asing ini melalui email kepada mereka, namun tetap saja mereka tidak perduli. Tutup kuping. Namun tidak semua berprilaku demikian, ada juga yang mengakui secara legawa kesalahan penulisan istilah asing, namun tidak jarang juga ada yang “mencak mencak”, merasa “dilecehkan” atau di “telanjangi” di depan umum. Bahkan seorang redaktur pun meneror saya untuk tidak membeberkan kesalahan di depan umum. Perlu dibedakan antara membeberkn kesalahan orang di depan umum, dengan kritik dan koreksi. Itu jauh berbeda. Saya bukan tipe orang yang suka mempertontonkan kesalahan orang di depan umum. Saya memberikan kritik, koreksi untuk sebuah kebaikan. Tidak ada maksud untuk menjatuhkan seseorang atas kesalahan yang dibuatnya.

Belajar dari kesalahan adalah sangat memalukan bagi mereka yang tidak bisa “menerima” kekurangan mereka. Justru ini sikap yang sangat tidak bijaksana. Mengapa tidak katakan saja mereka tidak tahu, karena akan dikasih tahu. Tidak ada maksud untuk menggurui. Tetapi memberikan informasi. Tetapi balasan apa yang aku terima?. Capek capek menyampaikan bahwa itu salah dan memberikan informasi penjelasan yang benar, namun kesalahan selalu saja terjadi.

Pernah suatu ketika ada penulisan kata “pontianak colorfull”. Penulisan “colorfull” dengan dua huruf L. Ini jelas salah dalam gramatika. Sudah sering saya sampaikan kepada dewan redaksi bahwa Suffix (akhiran-red) ful ditambahkan kepada kata benda (noun-red) untuk menghasilkan kata sifat. Contoh lain cheerful, joyful, dan lain sebagainya. Tetapi apa daya?. Sudah saya paparkan lengkap dengan referensinya tetapi istilah salah denan dua huruf L masih saya dipakai, sampai beberapa kali edisi.

Bahkan ada seorang redaktur yang dengan konyol menyatakan pendapat saya sebagai arogansi mentang mentang saya dari Bahasa Inggris. Ya ela belagu bener tuh redaktur. Bukannya berterima kasih sudah diinformasikan kesalahan sekaligus informasi yang sebenarnya, malah ngenYek (istilah jawa-red). Ya sudah lah nanti kalaw di sentil sama pembaca biar tau rasa. Saya sudah tidak perduli lagi dengan mereka. Mau cetak salah kutip atau tidak sudah bukan urusan saya lagi. Terserah you.

Sampai sekarang pun saya masih mendapati beberapa istilah asing yang berasal dari Bahasa Inggris yang salah dalam penulisan misalnya Multifiannce, padahal seharusnya adalah multfinance. Ah sudahlah terserah you. Saya udah capek kasih tahunya

Padahal kantor banyak uang. Mengapa tidak dipakai saja buat mencerdaskan para karyawannya. Disekolahin lagi kek, atau dikirim tugas belajar kek. Atau yang mau praktisnya ya undang tenaga ahli untuk memberikan inhouse training kepada para karyawan sesuai dengan bidang masing masing. Kan enak. Karyawan jadi cerdas, pintar, dan ini kan membuat koran menjadi lebih bernas, lebih ok, enak bahasanya, dan akan menjadi idola. Otak tuh diisi. Berikan pelatihan dan kursus buat wartawan dan juga karyawan bagian apa pun untuk bisa maju dan berkembang wawasannya. Bukan ngurusin kredit blackberry.

Berapa sih biaya buat kasi Les karyawannya atau datangkan instruktur atau tenaga ahli untuk kasih inhouse training kepada para karyawannya?. Apa nda mau memiliki karyawan yang cakap, terampil, pintar?. Pelesir ke Singapur, China, Eropa aja bisa ngongkosin. Pelesir digedein, otak nda diisi. Oala edan edan. Itulah sebabnya saya sebut TIDAK MAU BELAJAR dalam artian sebenarnya.

Belajar la. Malu tauuuuuu


No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog